Pesan Cinta dari Palestina
Kamis , 30 Agu 2018, 05:04 WIB

Republika/Iman Firmansyah
Peserta aksi solidaritas Palestina mengibarkan bendera Palestina dan Indonesia dalam aksi solidaritas Palestina di Monumen Nasional, Jakarta, Ahad (17/12).

IHRAM.CO.ID, BOYOLALI -- Raut lelah bercampur bahagia terlihat di wajah ratusan jamaah haji di Asrama Haji Donohudan Embarkasi/Debarkasi Solo, Jawa Tengah. Mereka baru saja tiba di Kabupaten Boyolali, Selasa (28/8).

Kepulangan dari Tanah Suci membawa cerita tersendiri bagi tiap-tiap jamaah. Sebagian dari pengalaman tersebut biasanya tak terlupakan dalam waktu singkat.

Seperti yang dirasakan Agus Salim (64 tahun). Pria asal Kabupaten Tegal tersebut mengaku, saat beribadah di Tanah Suci dia bertemu dengan jamaah asal Palestina. Ketika mengetahui Agus berasal dari Indonesia, seketika jamaah asal Palestina tersebut mengucapkan kalimat cinta Indonesia dalam bahasa Inggris. Jamaah Palestina itu mengatakan bahwa Indonesia dan Palestina bersaudara.

Keduanya langsung akrab. "Dia minta sesuatu dari saya. Ternyata yang diminta itu pin berdera merah putih, ada lambang garuda yang saya pakai," ujar Agus kepada Republika.co.id di Asrama Haji Donohudan.

Agus bersyukur ibadah haji yang dia lalui berjalan lancar, meskipun dia tidak sempat mencium Hajar Aswad. Agus sudah berusaha mendekati batu peninggalan Nabi Ibrahim AS tersebut. Namun, dia terhalang oleh ribuan jamaah lainnya.

Agus mulai menabung untuk mendaftar haji sejak usianya 50-an tahun. Pria yang bekerja sebagai petani tebu tersebut menyisihkan uang sedikit demi sedilit saat panen tebu setahun sekali. Kemudian, pada 2011 dia mendaftar haji. "Alhamdulillah sudah terlaksana karena ini keinginan saya dari kecil," kata dia.

Berbeda lagi pengalaman Tuminah (60 tahun). Jamaah asal Kabupaten Tegal tersebut bersyukur selama melaksanakan ibadah haji diberikan kelancaran oleh Allah SWT. Dia sangat senang dapat menjalankan rukun Islam yang kelima.

Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai petani tersebut menceritakan pengalamannya saat beribadah di Arafah pada 8 Dzulhijah. Saat itu, jamaah tengah melaksanakan shalat Maghrib.

Tiba-tiba datang badai pasir yang terbilang cukup besar. "Syukurlah, semua jamaah haji selamat," ujar Tuminah.

Pengalaman lain yang tak terlupakan olehnya adalah cuaca di Arab Saudi yang lebih panas dibandingkan di Indonesia. Perbedaan cuaca tersebut membuatnya batuk dan masuk angin. Namun, hal tersebut tidak mengganggunya selama berhaji.

Keinginannya untuk berangkat haji ada sejak usia Tuminah 40-an tahun. Dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari hasil bertani. Kemudian, pada 2011 dia mendaftar haji dan baru berangkat tahun ini.

Sebelum dipulangkan ke kabupaten/kota masing-masing, jamaah mengikuti upacara penyambutan di Gedung Muzdalifah Asrama Haji Donohudan. Acara tersebut dihadiri oleh Pejabat (PJ) Gubernur Jawa Tengah, Syarifuddin.

Syarifuddin menyambut kepulangan jamaah ke Tanah Air. Menurut dia, meski telah menginjakkan kaki di Tanah Air, tugas jamaah belum selesai. Sebab, orang yang berpredikat haji atau hajah dituntut untuk memberikan keteladanan kepada masyarakat serta selalu menjaga tali silaturahim, persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.

Berita Terkait

"Saya berharap predikat haji atau hajah tidak membuat takabur tapi justru menjadikan sikap tawadhu, rendah hati, dan meningkatkan amal saleh," ujar Syarifuddin.

Dia juga mengajak jamaah haji semakin banyak menorehkan karya bagi bangsa, tidak hanya pembinaan nilai spritual, tetapi juga berperan aktif mendorong semangat masyarakat. "Untuk kerja keras dan berpartisipasi dalam pembangunan," kata dia.


Redaktur : Qommarria Rostanti
Reporter : Binti Sholikah
BERITA TERKAIT