Menjaga Kehormatan Keluarga
Selasa , 21 Agu 2018, 18:00 WIB

Republika/Yogi Ardhi
Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama

IHRAM.CO.ID, JAKARTA --  Kisah Ibrahim AS dengan kedua istrinya, Sarah dan Hajar, selanjutnya Ismail AS, putra Ibrahim dari Hajar, memang telah berulang kali dikisahkan. Meski telah banyak dikisahkan dalam setiap majelis taklim, tidak pernah habis hikmah yang bisa dijadikan pelajaran, terutama soal mengarungi bahtera rumah tangga.

Seperti dikisahkan dalam buku Kisah- Kisah Sahih dalam Quran dan Hadis bahwa Hajar merupakan seorang perempuan Mesir yang dihadiahkan oleh penguasa zalim Mesir kepada Sarah. Ketika Ibrahim belum dikaruniai anak setelah menikahi Sarah, Sarah memberikan hamba sahayanya itu kepada Ibrahim untuk dinikahi dengan harapan Allah SWT akan memberikan seorang anak.

Setelah Hajar melahirkan Ismail di bumi yang penuh berkah, Palestina, Ibrahim membawa Hajar dan Ismail pergi ke Makkah. Tujuan mereka pergi adalah demi menghindari sikap Sarah yang begitu membenci Hajar dan Ismail. Namun, setelah sampai di suatu tempat di Makkah, bukan kebahagian yang Hajar dan Ismail rasakan, melain kan kesulitan yang luar biasa karena Ibrahim tanpa banyak kata meninggalkannya.

Padahal, di tempat ia ditinggalkan, kondisi Makkah belum seramai sekarang. Sepi tanpa penghuni sehingga tidak ada makan dan minuman untuk digunakan sebagai bertahan hidup. Sebelum jauh melangkah, Hajar telah mengajukan pertanyaan kepada Ibrahim terkait kepergiannya. Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi? kata Hajar. Ibrahim tidak menjawab sepatah kata pun dan melanjutkan perjalannya.

Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun manusia dan tidak ada sesuatu apa pun? tanya Hajar. Ibrahim tetap diam. Hajar pun kembali bertanya. Apakah Allah SWT yang menyuruhmu melakukan ini semua? katanya dengan sedikit berteriak karena langkah Ibrahim mulai jauh.

Kali ini Ibrahim menjawab pertanyaan dari Siti Hajar. Memang jawabannya tidak panjang, cukup dengan satu kata. Ya, katanya. Kalau memang demikian, Dia (Allah) tidak akan mengabaikan kami, kata Hajar. Langkah Ibrahim pun tidak tampak lagi. Setelah Hajar tidak terlihat lagi, Ibrahim berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya.

Doa yang dipanjatkan Ibrahim seperti diabadikan dalam surah Ibrahim ayat ke-37. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah- Mu (Baitullah) yang dihormati.

Ya Tuhan kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikanlah rezeki kepada mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur. Kecemasan mulai terasa setelah semua persedian makanan dan minuman yang ditinggalkan Ibrahim sudah habis.

Demi terhentinya tangisan anaknya, Hajar pun pergi ke bukit yang kini dikenal dengan nama Shafa. Hajar berdiri di atasnya untuk me minta bantuan. Karena tidak men dapatkan bantuan di atas Bukit Shafa, ia pun turun ke tempat yang kini dikenal sebagai Marwah. Keadaan Marwah sama seperti di Shafa, ia juga tidak melihat seorang pun untuk dimintai bantuan.

Hajar pasrah. Ibnu Abbas mengatakan, Nabi SAW berkata, Karena inilah orang-orang melakukan sa'i di antara keduanya (Shafa dan Marwah). Di saat kepasrahan itu, Hajar melihat malaikat di tempat sumber air zamzam tengah menggali-gali tanah dengan tumitnya, dalam riwayat lain dengan sayapnya, hingga muncul air. Hajar membendung air dengan tangannya dan menciduk dan memasukan ke dalam kantong kulit.

Air itu terus mengalir deras setelah Hajar menciduknya. Ibnu Abbas mengatakan, Nabi SAW bersabda, Seandainya ia tidak menciduk airnya, niscaya zamzam menjadi air yang mengalir. Lebih lanjut Ibnu Abbas mengatakan bahwa malaikat berkata kepada Hajar, Jangan engkau khawatir akan disiasiakan, karena di sini terdapat sebuah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan bapaknya.

Dan sesungguhnya Allah tidak akan menelantarkan penduduknya. Setelah kepemilikan zamzam, Hajar dan putranya, Ismail, menjadi orang yang paling dihargai oleh pendatang (bani Jurhum). Ismail pun kelak menikah dengan salah satu perempuan dari bani Jurhum. Istri salehah Setelah ibunda Ismail meninggal dunia, Ibrahim datang ke tempat yang ditinggalkannya.

Ia kagum dengan perubahan Makkah yang terlihat lebih ramai karena banyak penduduknya. Ibrahim bertanya kepada perempuan yang tidak lain adalah istri Ismail.

Ia sedang mencari nafkah untuk kami, kata istrinya. Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Kami dalam keadaan buruk dan hidup kesusahan, katanya mengeluhkan keadaan yang tidak benar. Baiklah, jika suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya agar mengubah palang pintunya. kata Ibrahim.

Ketika suaminya datang, tanpa tahu maksudnya istri Ismail menyampaikan apa yang ia obrolkan dengan Ibrahim. Orang tua yang menyampaikan pesan itu adalah ayahku. Ia menyuruhku untuk mencerai kanmu, maka pergilah kamu ke keluargamu, kata Ismail.

Setelah beberapa lama, Ibrahim kembali ke rumah Ismail, tetapi kali ini perempuan yang dia ajak berbicara berbeda tetapi masih istri Ismail. Nabi Ibrahim bertanya kepada istri kedua Ismail dengan pertanyaan sama seperti yang disampaikan kepada istri pertama.

Jawaban istri kedua lebih menyejukkan. Kami baik-baik saja dan kecukupan dari air yang kami minum dan daging yang kami makan, katanya. Mendengarkan perkataan itu, Ibrahim mendoakan mereka.

Belum lama Ibrahim pulang, Ismail datang dan bertanya kepada istrinya tentang siapa yang datang ke rumah. Apa pesannya, kata Ismail kepada istrinya.

Istrinya lalu menyampaikan agar ia memperkokoh palang pintu. Ismail pun menerangkan bahwa palang pintu yang dimaksud adalah seorang istri. Dia adalah ayahku dan ayahku menyuruhku agar aku tetap hidup rukun bersamamu, katanya.

Redaktur : Agung Sasongko
Sumber : Dialog Jumat Republika