Mengapa Bandara Jeddah Lebih Lengang?
Sabtu , 11 Agustus 2018, 13:42 WIB

Republika/Fitriyan Zamzami
Tim Seksi Perlindungan Jamaah Daker Bandara mengantarkan jamaah ke bus menuju Makkah selepas diobservasi di Klinik Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Rabu (8/8).

IHRAM.CO.ID, Fitriyan Zamzami/Wartawan Republika

Mereka yang sempat menengok Bandara King Abdulaziz di Jeddah setidaknya tahun lalu paham bahwa tak selalu begini keadaannya. Penumpukan jamaaah jadi pemandangan yang jamak, utamanya pada musim-musim haji seperti ini.

Antrean penumpang yang mengular sampai jauh, menanti singgah di seluruh plaza bandara yang masih ditempati jamaah negara lain atau negara sendiri yang sedang mengambil rehat atau berganti kain ihram. Para pekerja kasar yang tak punya jeda bekerja mengangkut barang-barang jamaah.

Bus-bus yang terparkir hingga penuh hampir mencapai pelataran bandara. Kebingungan dan kelelahan penumpang yang menunggu berjam-jam sebelum bisa berangkat ke Makkah. Antrean di toilet-toilet di seluruhnya dari sekitar sepuluh plaza bandara.

Tahun ini, sudah lewat sehari pekan terakhir kedatangan gelombang kedua jamaah haji Indonesia, hal-hal itu tak nampak. Musa (40 tahun) seorang pekerja bongkar muat dari Mesir nampak masih sempat menyelesaikan khataman Alqurannya yang selalu ia bawa kemana-mana di pelataran bandara. “Masih menunggu jamaah,” kata dia saat ditemui di bandara, Jumat (10/8).

Abdillah Muhammad, sekretaris Daker Bandara PPIH Arab Saudi memeriksa jam tangannya, tak sampai dua jam jamaah dari Kloter 80 Embarkasi Solo yang tiba pada pukul 15.00 sudah masuk ke bus menuju Makkah. “Dulu pernah enam bahkan sepuluh jam jamaah menunggu di Bandara Jeddah,” kata dia.

Saat ini, jamaah dari negara manapun yang singgah di Bandara Jeddah memang langsung didorong masuk bus. Mereka diminta membawa koper masing-masing, proses yang menurut Abdillah Muhammad memangkas enam proses kedatangan sekaligus.

Atasannya, Kepala Daker Bandara Arsyad Hidayat mengiyakan soal lengangnya Bandara Jeddah. Hal itu, menurutnya bukan karena jumlah jamaah haji berkurang tahun ini. “Pertama ini terkait visi Arab Saudi 2030. Khususnya terkait upaya yang ingin direalisasikan soal pelayanan di bandara kedatangan jauh lebih maju dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata dia.

Saat ini, ia menuturkan, semua area plaza bandara langsung dibersihkan, mulai dari musholla hingga ke toilet. Selain itu, pihak Arab Saudi memperbanyak informasi di bandara. Soal toilet di mana, parkir bus de mana, tempat berjualan di mana, semuanya ditulis dengan jelas.

 “Yang kedua, jamaah dibuat senyaman mungkin tidak ada penumpukan-penumpukan. Sekarang jamaah mau diistirahatkan di plaza mana saja boleh, tidak mengantre lagi seperti dulu,” kata dia. Dengan regulasi percepatan kedatangan terkini, Jamaah hanya diberi waktu buang air ke toilet, shalat sunah, setelah itu dibariskan ke dalam bus.

Menurutnya, dengan pola percepatan seperti ini, potensi kehilangan dan potensi terpisah antar keluarga sangat kecil. Terlebih jika jamaah sudah berpakaian ihram di Tanah air. Tidak ada jamaah membuka tas saat mengenakan kain ihram dan potensi barang tercecer jadi kecil.

photo

Seorang petugas haji Indonesia selepas memberikan minum kepada jamaah haji Palestina di Bandara King Abdulaziz, Jeddah, Rabu (8/8). Sebanyak 350 jamaah Palestina terbang melalui Kairo, Mesir, dan tiba di Jeddah hari itu.

Dari sisi kesehatan, menurut Arsyad sangat mungkin jamaah lebih segar. “Jika langsung naik bus jamaah lebih nyaman dan siap dibagikan makanan. Ini mempengaruhi berkurangnya keletihan jamaah dan recovery dari kelelahan bisa lebih cepat,” kata dia.

Tapi percepatan itu bukan tanpa konsekuensi. “Upaya-upaya percepatan Saudi ini akan menjadi bahan evaluasi kita. Mau ndak mau kita mengikuti pola ini,” kata dia.

Misalnya jamaah sudah diatur rombongannya saat masuk pesawat, termasuk saat mulai turun mencerminkan rombongan masing-masing. Dengan begitu, saat keluar jamaah sudah tertib dan tak sukar didorong menuju bus.

Selain itu, harus ada sosialisasi di Tanah Air terkait kebijakan-kebijakan baru di Tanah Suci. Di antaranya soal koper yang dibawa sendiri. Jamaah akan diberitahu bahwa jika koper dibawa orang lain, persoalan yang kemungkinan terjadi di pemeriksan bea cukai bisa diantisipasi selekasnya. Selain itu, embarkasi harus lebih ketat menerapkan imbauan menggunakan kain ihram di Tanah Air agar jamaah tak terlalu merasa diburu waktu di Bandara Jeddah.

Arsyad mengharapkan, percepatan kedatangan dan kondisi Bandara Jeddah yang lebih nyaman bisa bertahan hingga akhir kedatangan. "Dengan sinergi antara petugas Arab Saudi dan petugas kita saya kira kelancaran ini bisa terus kita upayakan," kata dia. 

Redaktur : Ichsan Emrald Alamsyah