Jamaah Diminta Proaktif Laporkan Keberadaan Dirinya
Sabtu , 11 Aug 2018, 14:15 WIB

republika/Erdi Nasrul
Jamaah mengantre masuk lift hotel

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Mendekati puncak haji, petugas kelompok terbang (kloter) harus mengetahui keberadaan jamaah. Setiap hari mereka harus mendeteksi aktivitas setiap individu.

Pada malam hari sebelum istirahat, kepala regu dan rombongan dapat melihat apakah semuanya sudah beristirahat di kamar atau belum. Jamaah juga harus proaktif melaporkan keberadaan dirinya.

“Ini untuk kemaslahatan bersama, agar keberadaan dan kegiatan jamaah terpantau,” ujar Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis di Syisyah Makkah, Sabtu (11/8).

Kemana pun mereka pergi, terutama jika ingin meninggalkan hotel beberapa hari, maka wajib menginformasikan kepada petugas kloter dan sektor. Ada saja jamaah yang ingin mendapatkan suasana baru dengan menginap di hotel dekat Masjid al-Haram beberapa hari. Setelah itu mereka kembali lagi ke hotel semula bersama regu dan rombongannya.

Sementara itu, kondisi Kota Makkah semakin padat, terutama pada sore hari setelah ashar dan malam hari setelah isya. Mereka memadati Masjid Suci untuk melaksanakan shalat berjamaah. Sejumlah ruas jalan, terutama yang mengarah ke Masjid al-Haram dipenuhi dengan bus jamaah haji yang mengarah ke tiga pemberhentian: Syib Amir, Bab Ali, dan Ajyad.

photo
Suasana Masjid al-Haram, Makkah, pada Rabu (8/8) malam waktu setempat.
Berdasarkan data kedatangan di Makkah, sebanyak 175 ribu jamaah dari 418 kloter sudah menempati 164 pondok di Makkah. 54 ribu kamar dibuka untuk jamaah yang masing-masing diisi maksimal enam orang. Hotel jamaah tersebar di tujuh wilayah: Jarwal,  Misfalah,  Raudhah,  Mahbas Jin,  Syisyah,  Aziziah,  Rei Bakhsy. Jarak terjauh mencapai 4.390 meter dan yang terdekat 900 meter.
Setelah memasuki kamar, jamaah beristirahat sejenak. Kemudian melaksanakan umrah wajib setelah shalat fardhu. Biasanya jamaah menunggu waktu sore untuk melaksanakan ibadah tersebut.
Sri Ilham mengimbau jamaah harus lebih menjaga diri. Kondisi yang ramai ini membuat gerak jamaah melamban.
Untuk keluar dari area Masjid al-Haram saja mereka membutuhkan waktu 30 menit sampai lebih dari satu jam. Sebisa mungkin jamaah membawa perbekalan makanan dan minum agar perut tidak kosong.
Sales Manager Hotel Pullman Menara Zamzam Muhammad Martin mengatakan ada saja jamaah reguler yang sudah memesan kamar di tempatnya untuk beberapa hari. “Biasanya mereka sudah booking dari jauh hari,” katanya.
Mereka sengaja menginap di Zamzam agar mudah mengunjungi Masjid Suci. Di sana mereka melaksanakan umrah dan shalat berjamaah dengan mudah. Jamaah yang menginap di sana hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk berjalan ke al-Haram. 
Selain Pullman, di dalam menara tersebut terdapat enam hotel lain: Movenpick, Fairmont, Rottana, Raffles, Swiss al-Maqam, dan Swiss. Di sana juga terdapat pusat perbelanjaan dan tempat aneka makanan.
Jamaah Indonesia biasanya berkumpul di area Grapari Telkomsel yang menyediakan pelayanan pelanggan dan juga kuliner khas Nusantara, seperti mi ayam dan bakso. Tampak jamaah haji Indonesia berkerumun di sana sambil menikmati sajian hidangan.
Menara Zamzam dulunya adalah menara yang dibangun Turki Usmani untuk memantau pergerakan jamaah haji. Bangunan itu kini diubah menjadi sejumlah gedung dengan jam yang terletak di bagian puncak. Bangunan tersebut terlihat jelas dari berbagai penjuru Makkah.
Menara Zamzam adalah aset wakaf produktif Raja Abdul Aziz as-Saud yang dikelola dengan profesional. Keuntungannya dimanfaatkan untuk pengelolaan Masjid al-Haram. 
Jamaah Indonesia
Martin menjelaskan jamaah Indonesia memiliki kekhasan. Mereka menikmati berbagai pelayanan yang disediakan. Pada waktu makan mereka datang ke restoran dan makan secukupnya. Piring mereka bersih dari sisa makanan. 
“Sementara ada tamu dari negara lain yang mengambil banyak makanan tapi tidak dihabiskan,” katanya.
Jamaah juga tidak banyak mengeluhkan pelayanan kamar. Seprei dan selimut selalu diganti setiap hari. Jika meninggalkan hotel, kamar masih dalam katergori rapi, sehingga pembersihannya tidak memakan banyak waktu. 
Petugas kebersihan merasa nyaman dengan sikap jamaah Indonesia yang murah senyum dan komunikatif. Tutur kata jamaah Indonesia dikenal sopan. Tidak disampaikan dengan suara tinggi. Sebagian petugas pelayanan kamar, kata Martin, mampu berbahasa Indonesia meski berasal dari Bangladesh dan sekitarnya. Mereka belajar bahasa tersebut dari jamaah Indonesia.

Redaktur : Ani Nursalikah