E-Hajj Permudah Pelayanan Jamaah Haji
Jumat , 10 August 2018, 11:00 WIB

republika/Erdi Nasrul
Jamaah haji memadati al Haram

IHRAM.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul dari Makkah, Arab Saudi

MAKKAH -- Sistem e-Hajj yang digunakan pemerintah Arab Saudi memudahkan Pemerintah Indonesia mengakses berbagai pelayanan ibadah haji. Pengiriman data jamaah lebih praktis, transaksi lebih mudah karena cukup dengan transfer antarbank untuk mendapatkan berbagai pelayanan yang dibutuhkan di Tanah Suci.

Direktur Pengelolaan Keuangan Haji dan Siskohat Ramadhan Harisman mengatakan, aplikasi yang sudah digunakan sejak 2014 itu mengintegrasikan sistem Kementerian Haji, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Dalam Negeri, perbankan, dan perusahaan penyedia layanan di Arab Saudi. “Semua negara yang mengirimkan jamaah haji menggunakan sistem tersebut,” katanya dalam pesan singkat, Jumat (10/8).

Dengan menggunakan sistem tersebut, berbagai data jamaah haji yang menjadi acuan dan dasar pelayanan di luar negeri langsung diakses penyelenggara haji Arab Saudi. Ramadhan menjelaskan, tujuan utamanya adalah mendapatkan kepastian layanan utama yang akan diterima setiap jamaah haji di Tanah Suci

Pemesanan berbagai pelayanan, seperti hotel, transportasi, katering, dan lainnya dilakukan melalui e-hajj. Sistem tersebut memberikan sejumlah keuntungan, di antaranya kepastian penyediaan layanan karena semua kontrak layanan diunggah dan tercatat di e-hajj.

Kementerian Agama (Kemenag) juga mendapatkan kepastian penyediaan layanan jamaah haji terkait hotel di Makkah dan Madinah, transportasi antarkota dan pelayaan Arafah-Muzdalifah-Mina (masyair). Tersedianya layanan-layanan tersebut adalah prasyarat terbitnya visa.

“Kami juga dapat memonitor progress penerbitan visa setiap jamaah, tiap tahapan hingga siap untuk dicetak,” kata Ramadhan.

photo

Jamaah haji bersiap melaksanakan umrah sunah.

Visa dapat dicetak secara mandiri melalui e-hajj dengan kertas biasa. Tidak ada kekhawatiran kehabisan stiker visa. Penggunaan kuota terkontrol dengan ketat. Proses penerbitan visa otomatis akan terhenti apabila kuota suatu negara sudah digunakan semuanya.

Proses pembatalan atau penggantian visa dilakukan secara elektronik. Baik Pemerintah Saudi maupun Indonesia sama-sama dapat mengawasi ketersediaan layanan (kapasitas hotel misalnya) dengan jamaah yang akan dilayani, termasuk sisa kapasitas.

Dengan berbagai keuntungan tadi, ada sejumlah kewajiban yang harus dilakukan oleh suatu misi haji. Pertama, layanan di Arab Saudi, seperti akomodasi di Makkah dan Madinah, transportasi antarkota dan pelayaan Arafah-Muzdalifah-Mina menggunakan bus masyair yang sudah dikontrak misi haji harus diunggah ke e-hajj.

Kontrak layanan yang diunggah ke e-hajj akan menjadi bahan untuk proses pemaketan layanan dalam rangka pemrosesan penerbitan visa. Sebagai contoh, agar dapat dipaketkan, jamaah A harus sudah ada nama hotel di Makkah dan Madinah, transportasi antarkota dan pelayaan masyair.

Agar proses pemaketan bisa segera dilaksanakan, misi haji harus melakukan proses pengadaan layanan-layanan di Saudi lebih awal. Penyusunan dan pembentukan kloter harus dilakukan lebih awal agar proses pada tadi efektif, perlu sinergitas, komunikasi, koordinasi dari semua pelauku kepentingan, baik di dalam negeri maupun di Saudi.

Sales Manager Pullman Zamzam, Muhammad Martin mengakui kemudahan dan kenyamanan penggunaan e-hajj. “Sistem lebih rapi, mudah, jelas, transparan,” katanya di lobi hotel tersebut.

photo

Jamaah haji berbelanja di syisyah.

Sebelumnya, biro travel membawa uang kas dalam jumlah banyak. Sekarang mereka tidak dibolehkan membayar dengan cara seperti itu. Berbagai transaksi harus melalui sistem komputerisasi, dari rekening negara asal ke rekening Pullman di Saudi. Biro travel atau jamaah yang mengirimkan atau menyetorkan sejumlah uang ke bank di Arab Saudi untuk pembayaran akan ditolak.

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menjelaskan transaksi menggunakan e-hajj merupakan keharusan. Sistem itu memudahkannya dalam pelaporan transaksi. Manajemen keuangan dan pelayanan menjadi lebih terdata.

Sebelum ada sistem tersebut, transaksi biasanya dilakukan dengan daring dan kas. Pembayaran sebagian menggunakan transfer. Penyewaan dilakukan melalui aplikasi, kemudian sampai di sini, tamu tinggal memverifikasi data.

“Jamaah Indonesia di sini cukup menikmati pelayanan. Jumlah mereka yang menginap di sini mulai 10 hingga 40 persen dari total kapasitas 1.315 kamar,” kata Martin.

Redaktur : Ani Nursalikah