Kemenag Sertifikasi Kelompok Bimbingan Haji
Selasa , 24 Jul 2018, 14:42 WIB

Antara
Manasik Haji

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Direktur Bina Haji Kementerian Agama, Khoirizi H Dasir mengatakan, ibadah haji merupakan ibadah rutin tahunan yang dilaksanakan umat Islam sejak zaman nabi. Namun, jamaah haji Indonesia masih belum seluruhnya menguasai proses rangkaian ibadah tersebut.

"Tentu ibadah haji adalah ibadah yang rutin dari zaman nabi adalah sama. Problemnya apakah jamaah kita itu sudah menguasai seluruh proses rangkaian ibadah itu, itu problem utamanya," ujat Khoirizi saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (24/7).

Karena itu, menurut dia, pemerintah sangat peduli dan sangat konsen untuk memberikan pembinaan manasik kepada masyarakat Indonesia. Pembinaan itu sudah dilakukan oleh kelompok bimbingan ibadah haji ataupun oleh pemerintah sendiri melalui Kantor Urusan Agama (KUA).

"Nah yang menjadi persoalan sekarang ini, apakah pembinaan manasik yang diberikan oleh masyarakat ataupun oleh KUA itu mencapai sasaran atau tidak? Kalau dari hasil evaluasi BPS tahun 2017 masih ada hal yang perlu dibenahi," ucapnya.

Untuk membenahi itu, lanjut dia, maka Kemenag melakukan sertifikasi terhadap kelompok bimbingan ibadah haji. Menurut dia, sertifikasi tersebut diperlukan agar pembimbing manasik haji memiliki kompetensi yang baik.

"Menteri Agama melalui sertifikasi kelompok bimbingan, supaya pembimbing manasik ini memiliki komptensi yang akuntable, yang bisa dipertanggungjawabkan. Dari situlah regulasi akan mulai bergerak, dari situlah pembenahan akan bergerak," katanya.

photo
Rencana Perjalanan Haji 2018

Dia menambahkan, setidaknya saat ini ada 15 persen jamaah haji yang kurang memahami terhadap pelaksanaan ibadah haji. Menurut dia, angka tersebut masih relatif kecil melihat masyarakat Indonesia yang majemuk.

"Sebenarnya bukan keliru mas, tapi karena pehaman saja, karena masyarakat Indonesia jamaahnya sangat homogen, sangat mejemuk, dari yang paling muda sampai yang paling tua, dari yang tidak sekolah smapai pada yang punya pendidikan yang sangat tinggi. Dari yang sederhana ekonominya sampai yang punya uang triliunan," jelasnya.

"Nah inilah persoalan-persoalan yang harus kita hadapi ke depan bagaimana sistem pembinaan ini bisa menyentuh itu," imbuhnya.

Redaktur : Agung Sasongko
Reporter : Muhyiddin

BERITA LAINNYA