Jamaah Haji Indonesia Belum Nikmati Kereta Cepat Haramain
Kamis , 12 Juli 2018, 14:01 WIB

Foto: Arab News
Gubernur Madinah Pangeran Faisal bin Salman naik kereta Haramain berkecepatan tinggi dari Madinah ke Makkah. (Foto: Arab News).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Jamaah haji asal Indonesia belum dapat menikmati armada transportasi Kereta Cepat Haramain di Arab Saudi. Baik jamaah reguler maupun haji khusus masih menggunakan bus sebagai sarana utama perjalanan.

Kasubdit Dokumen dan Perlengkapan Haji Reguler Kementerian Agama Nasrullah Jasam mengatakan kereta cepat digunakan untuk jamaah haji domestik asal Saudi dan negara-negara Teluk. Belum ada pembicaraan penggunaan bagi jamaah asal Indonesia.

"Sampai saat ini, sependek yang saya tahu belum ada (pembicaraan)," kata dia pada Republika.co.id, Selasa (11/7).

Begitu pula dengan jamaah haji khusus Indonesia yang masih akan menggunakan bus. Kasubdit Haji Khusus Iwan Dartiwan mengatakan tahun ini jamaah haji khusus masih menggunakan bus naqabah.

"Belum, kita terikat dengan sistem e-hajj sehingga hal-hal terkait dengan pelayanan termasuk transportasi tetap diatur di e-hajj," katanya.

Menurut Iwan, jamaah haji khusus juga belum ikut dalam kebijakan perekaman data biometrik. Untuk sementara, pelaksanaan biometrik hanya dilakukan terhadap jamaah haji reguler.

Hal ini karena belum ada pembicaraan terkait teknis dan mekanisme pelaksanaannya. Haji reguler melaksanakan perekaman data di embarkasi sebelum keberangkatan. Sementara haji khusus tidak melalui asrama embarkasi.

Kereta Cepat Haramain diperkirakan akan mulai beroperasi di musim haji tahun ini. Beberapa waktu lalu, Direktur jenderal proyek, Mohammed Abdulhafiz Fida mengatakan kereta tersebut akan membawa perubahan dramatis dalam transportasi jamaah haji dan penumpang lain antara dua kota suci Makkah dan Madinah.

Haramain Railway adalah salah satu proyek kereta api terbesar di kawasan Timur Tengah. Kereta ini akan mengurangi kepadatan di jalan raya antara Makkah dan Madinah. Kereta juga diharapkan menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan jamaah dan penumpang lainnya.

Kereta Haramain akan melewati Jeddah dan Raja Abdullah Economic City di Rabigh. Ia akan mengurangi waktu perjalanan antara Makkah dan Madinah menjadi dua jam dan 15 menit dengan kecepatan 300 Km per jam.

Kereta api ini memiliki lima stasiun di Bandara Udara Makkah, Madinah, Jeddah, Rabigh dan King Abdulaziz. Ia dirancang sesuai dengan arsitektur Islam dan akan melayani ribuan penumpang setiap harinya. Kereta dilengkapi dengan fasilitas modern untuk memastikan kenyamanan penumpang.

Masing-masing lima stasiun memiliki ruang tunggu untuk keberangkatan dan kedatangan penumpang, toko, restoran, kafe, tempat parkir dan ruang VIP. Di sampingnya ada masjid untuk 1.000 jamaah, sebuah helipad dan sebuah pusat Pertahanan Sipil.

Stasiun di Makkah terletak dekat dengan Rusaifa, sekitar tiga Km dari Masjidil Haram. Sedangkan stasiun Madinah terletak di Kota Pengetahuan di King Abdul Aziz Road, yang menghubungkan stasiun kereta api dengan Masjid Nabawi.

 

Stasiun utama di Jeddah terletak di Sulaimaniya di sepanjang Jalan Tol Makkah. Stasiun Jeddah kedua berada di Bandara Internasional King Abdulaziz, gerbang utama jamaah ke Makkah. Stasiun Rabigh terletak dekat dengan King Abdullah Economic City.

Berbicara tentang kapasitas stasiun kereta api, ia mengatakan stasiun Jeddah dapat menangani lebih dari 25 ribu penumpang per jam. "Proyek ini bertujuan mengangkut 60 juta penumpang setiap tahun menggunakan 35 kereta api berkecepatan tinggi, masing-masing dengan kapasitas 417 kursi. Kapasitas dapat digandakan menjadi 834 dengan menambahkan dua gerbong," katanya.

Redaktur : Ani Nursalikah
Reporter : Lida Puspaningtyas