Katering dan Hotel Jadi Layanan Utama Perbaikan Jamaah Haji
Jumat , 22 Jun 2018, 10:19 WIB

Republika/Putra M. Akbar
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

IHRAM.CO.ID,  JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) terus melakukan persiapan akhir layanan yang akan diberikan kepada jamaah haji Indonesia. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan salah satu layanannya yakni penyedia katering bagi jamaah haji Indonesia.

"Jaga higienitas, baik bahan makanan maupun proses memasaknya. Sistem distribusi juga harus cepat dan tepat agar makanan bisa segera dikonsumsi jamaah," pesan Menag kepada pengelola Dapur Burhan Al Huda dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Jakarta, Jumat (22/6).

Menag mengapresiasi Dapur Burhan Al Huda yang sudah mempekerjakan chef atau tukang masak asli Indonesia. Hal itu harus dilakukan untuk memastikan makanan jamaah bercitarasa Indonesia. "Untuk menjamin keterpenuhan cita rasa Indonesia, kami akan lakukan pelatihan sertifikasi memasak. Itu harus diikuti semua penyedia katering. Pelatihnya dari tenaga ahli Indonesia," tutur Menag.

Di Madinah, total ada 15 perusahaan katering yang akan melayani jamaah haji Indonesia. Selama di Kota Nabi ini, jamaah akan mendapatkan dua kali makan (siang dan malam) serta satu kali snack berat (sarapan) dalam setiap harinya.

Selain dapur katering, Menag juga menyoroti Hotel Marriot yang berlokasi di sebelah utara Masjid Nabawi. Hotel di wilayah Markaziah ini merupakan salah satu pemondokan jamaah yang dikontrak satu musim penuh.

Untuk kali pertama, sistem penyewaan hotel di Madinah pada musim haji tahun ini dilakukan dengan tiga pola yakni sewa setengah musim, sewa semusim penuh, dan blocking time. Selama ini, sistem sewa hotel di Madinah dilakukan secara blocking time (8-9 hari).

Baca: Inilah Capaian BPKH dalam Setahun

Pada 2018, bahkan mayoritas hotel di sewa semusim penuh. Total ada 32 hotel yang telah disewa dengan kapasitas 108.574 jamaah (52,02 persen). Sewa setengah musim 0,62 persen, sedang blocking time 47,36 persen (75 hotel dengan kapasitas 98.838 jamaah).

"Pola ini akan lebih memudahkan penempatan jamaah dan pengaturan jadwal pergerakan jamaah gelombang pertama ke Makkah usai menjalani ibadah Arbain, dan jamaah gelombang kedua ke bandara saat akan pulang ke Tanah Air," jelas Menag. "Jamaah tidak perlu diburu-buru segera check out karena ada masa sewanya sudah habis dan kamar akan diisi jamaah lainnya," sambungnya.

Redaktur : Andi Nur Aminah
Reporter : Novita Intan