Nigeria Perbaiki Sistem Kesehatan Haji 2018
Senin , 18 Jun 2018, 07:00 WIB

NY Daily
Jamaah haji pada puncak musim haji di Makkah.

IHRAM.CO.ID, ABUJA -- Komisi Nasional Haji Nigeria (Nahcon) telah merevisi ketentuan medis jamaah haji 2018. Kebijakan tersebut sudah ditetapkan untuk memastikan penyediaan pelayanan medis selama pelaksanaan haji.

Salah satunya, Komisi telah membentuk tim medis nasional yang terdiri dari petugas kesehatan dari di semua negara bagian. Tim medis ini telah melakukan pelatihan dan lokakarya untuk anggotanya.

Kepala tim medis, Ibrahim Kana yang memberi pembaruan pada persiapan mengatakan orientasi dan pelatihan lokakarya sudah diadakan untuk tim dua pekan yang lalu.

"Mereka (tim) mengikuti berbagai pelatihan kesehatan, seperti memahami sistem rekam medi, infeksi demam lassa, pencegahan dan pengendalian, serta etika tim medis selama haji," katanya dilansir Premium Times, Ahad (17/6).

Dokter dari Departemen kesehatan di Dewan Nahcon juga mengatakan mereka telah menyediakan semua vaksin yang diperlukan untuk tahun ini. Termasuk vaksinasi untuk demam kuning dan lainnya. Nahcon mengimbau vaksinasi untuk semua pihak termasuk operator tur swasta.

Kementerian Kesehatan juga telah memperkenalkan kebijakan baru tentang e-yellow card. Otoritas dari negara-negara bagian dapat terkoneksi langsung ke sistem pusat dalam hal dokumentasi, pembayaran dan penerbitannya.

"Ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena negara bagian harus memberikan biodata dari semua peziarah ke pejabat kesehatan secara manual dan kartu kuning kemudian akan dikeluarkan pada basis LGA," katanya.

Kana juga mengatakan Ketua Nahcon, Abdullahi Mohammed telah memberikan persetujuan untuk pengadaan semua obat-obatan yang diminta. Semua obat yang diperlukan untuk digunakan di Nigeria dan Saudi Arabia akan tersedia dalam beberapa pekan mendatang.

Selain itu, sistem komputer termutakhir telah diterapkan di sejumlah klinik sejak 2017. Komputer ini mengkonsolidasikan sistem rekam medis elektronik jamaah. Tahun lalu, banyak peziarah mengeluh karena jarak mereka terlalu jauh untuk mengakses klinik Nigeria di Makkah.

Untuk tujuan ini, Kana mengatakan, pengaturan akomodasi jamaah disesuaikan dengan letak klinik. Sehingga jarak tidak lagi menjadi masalah.

Redaktur : Muhammad Hafil
Reporter : Lida Puspaningtyas