Jamaah Haji 2018 akan Nikmati 10 Inovasi Ini
Rabu , 13 Juni 2018, 00:05 WIB

dok. Istimewa
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat melakukan peninjauan langsung sejumlah layanan haji 2018 di Makkah, Senin (11/6).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan sepuluh terobosan dalam pelayanan jamaah haji tahun ini. Inovasi itu mencakup katering, penginapan, dan banyak lagi. 

Hampir sepekan meninjau persiapan penyelenggaraan rukun Islam kelima di Arab Saudi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin menggelar rapat evaluasi di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah pada Selasa (12/06). Putra bungsu KH Saifudin Zuhri itu menilai persiapan haji tahun ini sudah hampir final.

"Pengecekan alhamdulillah berjalan lancar. Bersyukur, secara keseluruhan layanan sudah siap 90-95 persen. Tinggal finalisasi kontrak beberapa hotel di Madinah dan penyelesaian kontrak katering," tutur Menag di Makkah, belum lama ini. 

Lukman mencatat ada sejumlah inovasi baru pada musim haji 2018, sebagaimana dipaparkan berikut ini.

 

1. Rekam biometriks jamaah bisa dilakukan pada semua embarkasi haji di Indonesia

Sejak 2016, Kemenag terus mengusahakan agar rekam biometrik yang mencakup data 10 sidik jari dan foto wajah jamaah haji bisa dilakukan di Indonesia. Upaya tersebut baru bisa terealisasi tahun ini. "Inovasi ini akan memotong antrean dan masa tunggu yang sangat panjang saat pemeriksaan imigrasi, baik di Bandara Madinah maupun Jeddah," jelas Menag.

Dari sebelumnya bisa 4-5 jam, tahun ini diharapkan antrean jamaah di kedua bandara Saudi itu hanya sekitar satu jam. "Jadi, sampai bandara di Madinah atau Jeddah,  jemaah yang berangkat dari tiga embarkasi ini bisa langsung menuju bus untuk diantar ke hotel," ujar Menag.  

 

2. QR Code pada gelang jemaah

QR Code berisi rekam data identitas jamaah yang dapat diakses melalui aplikasi haji pintar. Ini akan memudahkan petugas haji dalam mengidentifikasi dan membantu jamaah yang membutuhkan pertolongan.

 

3. Sistem sewa akomodasi satu musim penuh di Madinah

Selama ini, sistem sewa seperti itu hanya diterapkan di Makkah. Di Madinah, sewa akomodasi dilakukan secara blocking time. Mulai tahun ini, 52,02 persen jamaah akan ditempatkan di 32 hotel yang disewa satu musim penuh.

Artinya, hotel menjadi hak jamaah Indonesia secara penuh tidak dibagi dengan negara lain. Dengan begitu, pemindahan mereka dari Madinah ke Makkah atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan memperhatikan kenyamanan.

 

4. Penggunaan bumbu masakan dan juru masak asal Indonesia

Kemenag meminta seluruh perusahaan katering untuk menggunakan bumbu asli dari Indonesia. Selain untuk menjaga cita rasa khas kuliner Indonesia, ini juga untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke luar negeri. Selama ini,  bumbu masak di Saudi didominasi dari negara lain.  "Cita rasa masakan kita harus ada untuk membuat para jamaah serasa di rumah sendiri," ujar dia.

 

5. Layanan katering bagi jamaah haji Indonesia selama di Makkah ditambah

Kalau sebelumnya hanya 25 kali, tahun ini menjadi 40 kali. Selain itu, ada juga penambahan pemberian  kelengkapan minuman dan makanan berupa teh, gula, kopi, saos sambel, kecap dan satu potong  roti untuk setiap jamaah.

Sementara dana living cost sebesar 1.500 riyal, tetap diberikan penuh sebagaimana biasa sehingga bisa digunakan untuk keperluan lain. "Jamaah haji yang diberangkatkan pagi hari dari hotel di Makkah pada 8 Dzulhijjah atau fase puncak haji, akan mendapat tambahan makan siang di Arafah," ujar Menag. 

 

6. Penandaan khusus pada paspor dan koper, serta penggunaan tas kabin

Untuk memudahkan pengelompokan, paspor dan koper jamaah tahun ini diberi tanda warna khusus per rombongan di setiap kloternya. Tanda warna ini juga sekaligus menunjukan sektor atau wilayah hotel dan nomer hotel tempat tinggal jamaah.

Inovasi ini untuk mempermudah identifikasi paspor dan menghindari tertukarnya koper jemaah. Apalagi,  tahun ini layanan hotel juga ditambah dengan jasa angkut sehingga jamaah tidak perlu lagi membawa kopernya hingga sampai pintu kamar.

 

7. Pengalihan porsi bagi jamaah wafat kepada ahli waris

Tahun ini,  Kemenag telah mengeluarkan regulasi baru bahwa jamaah wafat boleh digantikan ahli waris. Dengan syarat, jamaah tersebut wafat setelah ditetapkan sebagai jamaah berhak lunas pada tahun berjalan. Untuk tahun ini, mereka adalah jamaah yang wafat setelah 16 Maret 2018.

Sebelumnya, porsi jamaah wafat tidak bisa digantikan sehingga uangnya ditarik kembali oleh ahli waris. Jika akan digunakan untuk mendaftar, maka ahli waris terhitung dalam antrean baru. 

 

8. Pencetakan visa oleh Kemenag

Inovasi ini sangat signifikan dalam mempercepat proses penyiapan dokumen keberangkatan jamaah haji. Sebelumnya, Kemenag harus menunggu visa dari Kedutaan Saudi sehingga tidak jarang prosesnya menjadi lebih lama. 

 

9. Penempatan satu konsultan di tiap sektor

Selama ini, konsultan ibadah hanya ada di kantor Daker (Daerah Kerja) Makkah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter. 

 

10. Kemenag membentuk tim Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH)

Tim ini terdiri dari petugas layanan umum yang memiliki kemampuan medis. Diisi oleh petugas dari rumah sakit haji, prodi kedokteran UIN Jakarta,  serta rumah sakit TNI/Polri.

Tim ini disiapkan untuk mendukung layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari pertama lontar jumrah. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak jamaah yang membutuhkan pertolongan kesehatan di areal Jamarat menuju Mina. 

 

"Sepuluh inovasi ini merupakan upaya pemerintah untuk terus meningkatkan pelayanan. Harapannya, mereka bisa beribadah dengan tenang, memperoleh kemabruran, serta kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat," ucap Menag.

Menag Lukman bertolak ke Arab Saudi pada Kamis (7/6) lalu. Setibanya di Jeddah, dia langsung memimpin rapat bersama jajaran Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, tim penyedia layanan, serta Konjen RI di Jeddah dan tim Kantor Urusan Haji (KUH). Rapat membahas update kesiapan layanan haji tahun ini. 

Esok harinya, Jumat (8/6), Menag bertolak ke Madinah untuk melihat langsung persiapan di sana, mulai dari katering, hotel,  hingga layanan kesehatan. Pada Ahad (10/6), Menag melihat kesiapan layanan di Kota Makkah. Selain cek hotel jemaah, Menag juga melakukan simulasi layanan dan rute bus sholawat yang akan mengantar jamaah dari hotel menuju Masjid al-Haram dan sebaliknya.

Redaktur : Friska Yolanda
Reporter : Erdy Nasrul