Penetrasi Teknologi Haji Zaman Now
Selasa , 24 April 2018, 14:59 WIB

Republika/Amin Madani
Seorang petugas haji Indonesia sedang melayani jamaah haji (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Pelaksanaan ibadah haji tahun ini agaknya bakal ditandai kian dalamnya penetrasi teknologi dalam ritual tersebut.  Pengelola haji Indonesia mulai tahun ini akan menerapkan sejumlah penggunaan teknologi informasi tepat guna.

Salah satu yang mencolok adalah pada proses rekrutmen petugas haji. Tes tertulis untuk para calon petugas tahun ini sepenuhnya berbasis aplikasi yang mesti diunduh ke telepon pintar. 

"Sistem ini sudah kita lakukan sampai tingkat provinsi," kata Direktur Bina Haji Kementerian Agama Khoirizi H Dasir kepada Republika.co.id di Embarkasi Haji Pondok Gede, Selasa (24/4).

Ia mengatakan, penerapan teknologi itu guna menjamin objektivitas dan akuntabilitas seleksi petugas. Dalam ujian berbasis telepon genggam yang digelar, hasil langsung keluar selepas jawaban diunggah para peserta. Peserta langsung mengetahui seberapa banyak jawaban mereka yang tepat dan meleset.

Menurut Khoirizi, penerapan teknologi tersebut tak hanya di Tanah Air. Pengawasan terhadap petugas dan jamaah di Tanah Suci juga tahun ini bisa melalui aplikasi di telepon pintar dengan sistem operasi Android.

Pihak-pihak yang diserahi kewenangan nantinya bisa mengetahui lokasi keberadaan jamaah dan petugas. Hal itu, ujar Khoirizi, bertujuan memaksimalkan efektivitas penempatan petugas haji serta pelayanan jamaah.

"Tentu karena usia tetap akan ada jamaah yang tersesat (di Tanah Suci) nantinya. Namun, kami mencoba meminimalisir dengan sistem ini," kata Khoirizi.

Sistem tersebut sedianya sudah mulai diuji coba sejak tahun lalu. Kendati demikian, menurut Khoirizi, jaringan seluler kala itu kurang memadai.

Ia mengharapkan tahun ini hal tersebut bisa  dicarikan solusinya. Untuk memindai masing-masing jamaah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) nantinya akan menggunakan data dari sistem e-hajj yang diberlakukan Arab Saudi.

Penerapan teknologi pengawasan tahun ini, diakui Khorizi, juga bukannya tanpa kendala. Terlebih, sekitar 60 persen calon jamaah tahun ini dari kalangan lansia.

 

"Tapi jangan dijadikan keluhan. Justru itu tantangannya," katanya.

Haris Lc, salah satu calon petugas pemandu calon jamaah Tangerang mengatakan, mulanya bingung dengan penerapan teknologi dalam ujian tahun ini. "Saya memang membatasi diri dari menguasai teknologi," ujarnya berkelakar.

Ia menuturkan, sampai harus ke Warnet dekat rumahnya untuk mengunduh aplikasi ujian. Kendati demikian, ia akhirnya memaklumi tak mungkin menghindari penggunaan teknologi pada masa-masa sekarang.

"Memang banyak sekali manfaatnya kalau kita bisa mengontrol," ujarnya sebelum memasuki ruang ujian.

Redaktur : Ani Nursalikah
Reporter : fitriyan zamzami