Ini Cara Kemenag Agar Travel Umrah Nakal tak Terulang
Kamis , 29 Mar 2018, 14:47 WIB

Republika/ Wihdan
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengikuti Rapat Kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Tidak sedikit jamaah umrah yang telah menjadi korban penipuan travel umrah nakal di Indonesia. Namun, Kementerian Agama sampai saat ini belum berhasil menenggelamkan kasus ini. Setelah munculnya kasus biro perjalanan First Travel, Hannien Tours, dan juga PT Solusi Balad Lumampah (SBL), baru-baru ini muncul lagi kasus biro travel PT Abu Tours yang gagal memberangkatkan puluhan ribu jamaahnya.

Menanggapi hal itu, Menteria Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan, belakangan ini, pihaknya sedang mengintensifkan pengawasan terhadap biro perjalanan umrah melalui dua cara. Yaitu, Kemenag melakukan pengetatan regulasi dengan merevisi Peraturan Menteri Agama (PMA) dan akan meluncurkan Sistem Informasi Pengawasan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Sipatuh)

"Kita melakukan peningkatan, pengetatan pengawasan dengan dua cara. Pertama yaitu membuat regulasi yang baru, yang lebih ketat. Kita telah merivisi PMA terbaru yang menyangkut penyelenggaraan umrah ini. Dan kedua adalah dalam waktu dekat akan meluncurkan aplikasi Sipatuh," ujar Lukman saat ditemui setelah rapat evaluasi bersama Komisi VIII DPR RI, belum lama ini, di Gedung DPR, Senanyan, Jakarta.

Keberadaan aplikasi Sipatuh diharapkan dapat meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah dan haji khusus. Prinsip dasar kerja Sipatuh adalah memberikan ruang bagi jamaah untuk dapat memantau rencana perjalanan ibadah umrahnya, sejak mendaftar sampai pulang kembali ke Tanah Air.

"Jadi, dengan aplikasi ini kita akan memonitor seluruh proses transaksi antara calon jamaah umrah dengan para biro travel sehingga kemudian mereka betul-betul harus melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya," kata Lukman.

Sejauh ini, sudah ada puluhan ribu jamaah umrah yang gagal berangkat ke Tanah Suci akibat adanya travel nakal tersebut. Menurut Lukman, banyaknya jamaah yang gagal berangkat ini karena biro travel nakal tersebut melakukan bisnisnya secara masif dan melakukan sistem MLM.

"Karena ini, mereka masif melakukannya seperti yang dilakukan Abu Tours, misalanya, atau First Travel. Jadi, dia melakukan semacam sistem MLM, misalnya. Jadi, melalui orang per orang lalu berjejaring," ucap Lukman.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Muhyiddin