MUI Minta Jamaah Indonesia Hormati Aturan di Tanah Suci
Kamis , 01 March 2018, 17:47 WIB

Republika/Yasin Habibi
Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Saadi, menanggapi soal video jamaah umrah Indonesia yang melantunkan lagu Syubbanul Wathon saat sa'i. Akibat, bernyanyi saat Sa'i itu, Kedubes RI di Saudi mendapatkan teguran dari pemerintah Saudi.

 

Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh, juga menghimbau agar seluruh ekspatriat ataupun jamaah haji dan umrah mematuhi peraturan dan norma-norma yang berlaku di Arab Saudi.

Zainut mengatakan, teguran yang diberikan pemerintah Saudi kepada Dubes Indonesia untuk Saudi, itu karena semata melaksanakan tanggung jawabnya untuk melindungi dan melayani jamaah umrah lainnya. Karenanya, dia menghimbau, agar seluruh jamaah umrah dari manapun untuk menghormati dan mematuhi larangan tersebut.

"Bisa dibayangkan jika tidak ada larangan, nanti semua jamaah umrah atau haji dari semua negara akan mengikuti jamaah umrah dari Indonesia yaitu sa'i sambil menyanyikan lagu nasionalismenya masing-masing atas nama cinta terhadap tanah air," kata Zainut, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Kamis (1/3).

Zainut mengatakan, sebaiknya jamaah umrah atau haji dalam menunaikan manasik, baik thawaf maupun sa'i, diisi dengan banyak berzikir, berdoa, istighfar (memohon ampun kepada Allah) dan melafalkan kalimah thoyyibah (kalimat yang baik). Hal-hal tersebut, menurutnya, disunnahkan atau dianjurkan dalam syariat agama. Selain itu, jamaah bisa melantunkan lafaz zikir dan doa yang sudah tersurat dalam Alquran dan al-Hadits (ma'tsurat) atau pun do'a-do'a yang disunahkan lainnya.

Dia mengatakan, Sa'i dengan melantunkan lagu atau syair itu memang tidak membatalkan Sa'i. Hanya saja, kata dia, perbuatan tersebut bisa mengurangi pahala umrahnya karena dinilai bisa mengganggu kekhusyu'an jamaah umrah lainnya.

"Karena sangat disunahkan kepada jamaah didalam melaksanakan setiap rukun umrah misalnya thawaf dan sa'i itu harus dengan khusyuk, tawadhu' dan ihlas hanya mengharap ridha Allah SWT bukan untuk kepentingan lainnya," lanjutnya.

Dalam hal ini, dia mengatakan, MUI berharap apa yang sudah terjadi pada jamaah Indonesia itu bisa menjadi pengalaman yang baik dan pelajaran berharga bagi umat Islam lainnya. Karena menurutnya, terkadang sesuatu yang dianggap baik oleh diri sendiri belum tentu tepat jika dilaksanakan di tempat yang berbeda.

"Apalagi hal ini menyangkut masalah ibadah kepada Allah SWT sehingga dibutuhkan kehati-hatian agar ibadah kita menjadi sempurna," tambahnya.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Kiki Sakinah