Soal Haji, Bumbu Masakan Nusantara Bisa Dikirim ke Saudi
Selasa , 20 Februari 2018, 18:51 WIB

Republika/ Amin Madani
Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilhami Lubis (kedua kiri) bersama Direktur Pembinaan Haji Muhajirin Yanis (kiri) meninjau salah satu dapur perusahaan katering yang mensuplai konsumsi bagi jamaah haji Indonesia di Madinah (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Agama terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan jamaah haji Indonesia, termasuk dalam menyiapkan menu makanan yang bercita rasa nusantara. Namun, bahan baku dan bumbu masakan khas nusantara di Arab Saudi sering mengalami keterbatasan.

Karena itu, Kemenag berharap, ada eksportir yang dapat mengirimkan bahan makanan dan bumbu masak khas Indonesia ke Arab Saudi.  "Kita minta agar pihak-pihak yang bisa mengekspor bumbu makanan di Saudi agar bisa dikirim. Sebab, yang mau makan sudah ada," ujar Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Kemenag, Sri Ilham Lubis dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (20/02).

Sri mengatakan, Indonesia adalah pengirim jamaah haji terbesar di dunia. Tahun 2017 lalu, kuota haji Indonesia mencapai 221ribu. Jamaah umrah Indonesia dalam setiap tahunnya juga sangat banyak, hampir satu juta jamaah.

Sri melihat, hal ini menjadi peluang tersendiri bagi pengusaha Indonesia. Menurutnya, saat ini, sudah mulai ada gerakan dari sejumlah pengusaha sehingga beberapa makanan Indonesia juga sudah ada di Arab.

 

"Dengan ketersediaan bahan baku makanan dan bumbu masak asli Indonesia, harapannya makanan yang disajikan bercita rasa Indonesia," ujarnya.

Pihaknya juga akan memprioritaskan produk Indonesia untuk disediakan oleh perusahaan penyedia katering jamaah haji. Produk tersebut bisa berupa teh dan kopi Indonesia, atau bahan makanan lainnya. "Dari segi rasa tentu jamaah akan lebih senang dengan produk Indonesia," kata Sri.

Selama operasional haji, jamaah Indonesia mendapat layanan katering di Jeddah, Madinah, Arafah-Muzadalifah-Mina (Armina), dan Makkah. Tahun ini, Kementerian Agama bahkan mengusulkan agar jamaah bisa diberikan katering sebanyak maksimal 40 kali selama di Makkah.

 

Tahun lalu, jamaah hanya mendapat layanan 25 kali makan selama di Makkah. "Ini peluang. Kalau dimanfaatkan keuntungannya akan kembali ke Indonesia," ujar Sri.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Muhyiddin