Operator Tur Umrah Nigeria Keluhkan Kebijakan Data Biometrik
Kamis , 15 February 2018, 10:47 WIB

Republika/Iman Firmansyah
Perekaman data sidik jari (Ilustrasi)

IHRAM.CO.ID, ABUJA -- Operator tur umrah dan haji Nigeria mengeluhkan kebijakan keimigrasian baru yang diterapkan Saudi Arabia. Sistem registrasi data biometrik yang akan dipergunakan oleh jamaah dinilai banyak menghadapi tantangan.

Kebijakan ini diinisiasi pada 2017. Otoritas Saudi memodifikasi ketentuan imigrasinya untuk melakukan verifikasi pengunjung dengan sistem data biometrik.

Hanya ada tiga pusat registrasi yang diizinkan otoritas Saudi untuk wilayah Nigeria, yakni Abuja, Kano dan Lagos. Asosiasi Operator Haji dan Umrah Nigeria (AHUON_ mengeluhkan banyak perusahaan yang belum siap.

"Ini sangat buruk, memakan waktu sangat lama. Beberapa orang menghabiskan waktu berhari-hari untuk registrasi biometrik," kata Presiden Asosiasi, Tijjani Uba Waru pada Daily Trust, kemarin.

Menurutnya, hal ini merugikan operator hingga jutaan Naira karena banyak jamaah yang kehilangan minat untuk umrah. Tidak mudah bagi mereka mencapai pusat perekaman data karena hanya ada tiga pusat.

"Terutama bagi mereka yang tinggal sangat jauh, hanya untuk rekam sidik jari," katanya. Sejumlah orang bahkan harus naik pesawat untuk tiba di tiga pusat yang tersebut.

Bulan-bulan ini termasuk musim yang jarang keberangkatan umrah. Kondisi akan diperparah karena bertepatan dengan persiapan pelaksanaan ibadah haji 2018.

"Jika mereka tidak bisa melakukan perekaman musim ini, maka nanti akan ada musim sangat padat untuk perekaman data," kata Uba Waru. Diperkirakan 95 ribu orang akan berhaji tahun ini.

Pusat pengajuan visa ke Arab Saudi di Abuja pun mengeluhkan sistem yang masih lambat. Para karyawan harus bekerja lebih panjang karena butuh waktu berjam-jam untuk perekaman data.

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Lida Puspaningtyas