Islam Menjadi Agama Utama Rusia pada Tahun 2050?
Jumat , 02 Februari 2018, 06:00 WIB

EPA/YURI KOCHETKOV
Ribuan umat muslim di Rusia melaksanakan Shalat Idul Adha 1436 H di Masjid Agung Moskow atau Moskovskiy Soborniy Mecet, Kamis (24/9).EPA/YURI KOCHETKOV

IHRAM.CO.ID,  Adanya penaklukan yang dilakukan China saat ini di Timur Jauh Rusia tampaknya menjadi perhatian segera pihak Kremlin. di satu pihak lain, komunitas Muslim bisa menjadi komunitas terbesar pada pertengahan abad ini. Oleh karena itu, Islam memiliki semua peluang untuk menjadi agama yang dominan di Rusia.

Ilmuwan politik Ukraina, Valery Chaliy dan Mikhail Pashkov, pada tahun 2007 percaya bahwa ini bukanlah satu-satunya tantangan, yang harus dihadapi Rusia saat ini.

"Stabilitas makroekonomi Rusia sedang hancur karena tingginya tingkat inflasi dan kenaikan harga pangan. Dana yang cukup banyak diinvestasikan di perusahaan-perusahaan yang dikelola negara dan dihabiskan untuk kebutuhan sosial. Korupsi menahan pertumbuhan ekonomi nasional,'' katanya.

Pada tahun 2007, indeks Rusia turun dari posisi 120 ke posisi 14 di antara 160 negara dalam daftar korupsi Transparency International. Rusia menemukan dirinya berada di perusahaan Gambia, Indonesia dan Togo saat ini. Rusia mengambil posisi ke-58 yang rendah hati dalam daftar 131 negara mengenai peringkat integral kemampuan kompetitif ekonomi untuk tahun 2007.

Islam saat ini merupakan agama kedua yang paling banyak dikenal di Federasi Rusia. Tidak mungkin untuk menyediakan statistik resmi tentang "mempraktikkan" penganut Islam atau agama lain di Rusia karena tidak ada sensus atau statistik di seluruh negara yang dilakukan mengenai hal ini oleh organisasi pemerintah manapun. Roman Silantyev, seorang ahli Islam Rusia memperkirakan bahwa hanya ada antara 7 dan 9 juta orang yang mempraktikkan Islam di Rusia, dan sisanya hanya Muslim berdasarkan etnisitas. Komunitas Muslim terkonsentrasi di antara negara-negara minoritas yang berada di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Adyghe, Balkars, Chechnya, Circassians, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak penduduk Dagestani. Juga, di tengah Cekungan Volga tinggal populasi Tatar dan Bashkir, banyak di antaranya adalah Muslim.

Ada banyak bukti konsilidasi resmi terhadap Islam di Rusia pada 1990-an. Jumlah Muslim yang diperbolehkan melakukan ziarah ke Makkah meningkat tajam setelah embargo era Soviet berakhir pada tahun 1990. Pada tahun 1995 Uni Muslim Rusia yang baru dibentuk, yang dipimpin oleh Imam Khatyb Mukaddas dari Tatarstan, mulai mengorganisir sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan antar pemahaman etnik dan mengakhiri kesalahpahaman Islam tentang Islam. Uni Muslim Rusia adalah penerus langsung Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelum Perang Dunia I, yang memiliki faksi sendiri di Duma Rusia. Alhasil, pasca-Komunis telah membentuk sebuah partai politik, Gerakan Muslim Nur All-Rusia, yang bertindak dalam koordinasi yang erat dengan para imam Muslim untuk membela hak-hak politik, ekonomi, dan budaya umat Islam dan minoritas lainnya. Pusat Kebudayaan Islam Rusia, yang mencakup madrasah (madrasah), dibuka di Moskow pada tahun 1991.

Mayoritas Muslim di Rusia mematuhi Islam Sunni. Sekitar 2 persen adalah Muslim Syi'ah. Di beberapa daerah, terutama Chechnya, ada tradisi tasawuf Sunni. Kaum Azeri juga secara historis dan saat ini masih menjadi pengikut Syi'ah Islam, karena republik mereka terpecah dari Uni Soviet, sejumlah besar Azeris berimigrasi ke Rusia untuk mencari pekerjaan.

Banyak warga Muslim, khususnya ulama Muslim, sering mengutip contoh penangkapan dan pelecehan oleh pihak berwenang, serta penyitaan sumber pendidikan Islam secara ocassional. Masalahnya telah diperburuk oleh serangan teroris yang terkait dengan ekstremisme Islam dan kemerdekaan Chechnya. Banyak Muslim biasa di Rusia takut bahwa mereka telah menjadi korban reaksi keras.

Maraknya populasi Muslim Rusia, serangan teroris dan penurunan tajam populasi etnis Rusia telah menimbulkan tingkat Xenophobia dan Islamofobia yang lebih besar di Rusia. Serangan rasis yang keras oleh etnis Rusia, terutama skinhead Neo-Nazi, yang biasanya dilakukan terhadap orang-orang Yahudi, malah membuat semkin berkembang menjadi umat Islam.

Dengan demikian, umat Islam menanggung beban kekerasan rasis yang meningkat di Rusia. Serangan rasis telah menyerang 539 orang Muslim pada tahun 2006, atau meningkat 17 persen dibanding tahun 2005 mengacu pada data pusat analisis Sova dalam sebuah laporan. Hampir setengah dari 56 orang yang tewas dalam serangan tersebut berasal dari Kaukasus Utara dan Asia Tengah yang sangat banyak.

Redaktur : Muhammad Subarkah
Sumber : pravdareport.com