Krisis dan Berebut Air Atas Nama Sungai Nil
Kamis , 01 February 2018, 06:43 WIB

Daniel Wewengkang/Republika
Sungai Nil, salah satu landmark Mesir

IHRAM.CO.ID, Pada awal Januari lalu, orang Mesir terkejut dengan penurunan tingkat air Sungai Nil. Namun, menurut Menteri Perhubungan Mesir, Hesham Arafat, penurunan jumlah air yang digambarkan normal, sudah terjadi kira-kira 100 tahun mulai awal Desember sampai akhir Januari setiap tahun, menurut Menteri Perhubungan Hesham Arafat.

Meskipun begitu kali ini ada sinyalemen yang mengatakan bahwa penurunan jumlah air di jalur air Sungai Nil itu disebabkan oleh akhir badai musim dingin dan tidak terkait dengan pembangunan Grand Renaissance Ethiopia Dam (GERD). Namun situasi ini telah terlanjur menimbulkan kekhawatiran di kalangan penduduk Mesir mengenai seputar keamanan air di masa depan.

Pada hari Kamis lalu, Presiden Abdel Fattah Al-Sisi dan Perdana Menteri Ethiopia Hailemariam Desalegn membahas mengenai masa depan perundingan mengenai GERD. Mesir mengusulkan untuk mengundang Bank Dunia sebagai mediator netral dalam perundingan mengenai hal tersebut. Tapi usulan tersebut ditolak oleh pihak Etiopia.

photo

Hulu sungai Nil.

Sementara itu, perdana menteri Ethiopia menekankan komitmen negaranya untuk bekerja dengan tim teknis mengenai bendungan tersebut. Dia mengatakan bahwa Ethiopia memahami kekhawatiran Mesir atas GERD. Dia tekankan bahwa tidak akan ada yang bisa mempengaruhi keamanan air Mesir.

Sumber Aliran Darah Mesir

Aliran Sungai Nil sekarang hampir tidak menyuplai 97 persen kebutuhan air Mesir saat ini yang hanya mencapai 660 meter kubik per orang. Dengan populasi yang diperkirakan akan berlipat ganda dalam 50 tahun ke depan, Mesir diproyeksikan mengalami krisis air tawar dan makanan. Dan ini menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Geological Society of America (GSA).

Penelitian tersebut memperkirakan bahwa "masalah kekurangan  air tawar dan energi di Cekungan Sungai Nil yang lebih rendah kemungkinan akan semakin diperburuk lagi di tahun-tahun mendatang dengan pembangunan Grand Renaissance Dam (GERD) Ethiopia."

Selama ini Mesir menerima sekitar 70 persen aliran airnya dari Sungai Nil Biru dan Sungai Atbara. Keduanya bersumber di Dataran Tinggi Ethiopia yang kemudian bergabung sebagai sungai Nil utama di Sudan utara.

Terjadinya Krisis Pasokan Air

Memang Ethiopia akan segera menyelesaikan pembangunan bendungan tenaga air terbesar di Afrika, yakni Bendungan Renaissance Grand Ethiopia. Waduk besar ini harus diisi selama tiga sampai lima tahun, atau bahkan bisa memerlukan periode waktu yang lebih lama. Saat itu diperkirakan bahwa jumlah arus sungai Nil ke Sudan dan Mesir dan delta akan berkurang secara substansial. Bendungan, yang sebelumnya dikenal sebagai Bendungan Milenium, kini memang sedang dibangun di wilayah Benishangul-Gumuz di Ethiopia, di Sungai Nil Biru.

photo

Bendungan Besar sungai Nil yang lagi dibangun di Ethopia.

Pembangunan bendungan dimulai pada bulan April 2011. Namun, Mesir telah menyatakan kekhawatiran bahwa pembangunan bendungan tersebut dapat berdampak negatif terhadap pangsa air sungai Nil yang bersejarah yang seluas 55 miliar meter persegi itu. Apalagi ini telah mendapat akses sejak kesepakatan bersejarah 1959 antara Mesir dan Sudan.

Perpecahan diplomatik

Pada bulan November, Menteri Sumber Daya Air dan Irigasi Mesir Mohamed Abdelaty mengumumkan kegagalan negosiasi Komite Nasional Tripartit di Dam Renaissance (TNCRD). Ini terjadi setelah pertemuan ke-17 komite di Kairo yang tujuannya untuk membahas situasi bendungan tersebut. Hal ini ada tertera dalam terang laporan awal dua perusahaan konsultan Prancis-BRL dan Artelia yang memang bertugas untuk menilai kemungkinan dampak bendungan di negara-negara hilir.

Beberapa hari setelah Mesir memproklamirkan pendiriannya, Ethiopiakemudian  menegaskan desakannya untuk melanjutkan pembangunan GERD meskipun ada keberatan dari Mesir. "Bendungan itu 63 persen telaj selesai," kata Menteri Perairan, Irigasi, dan Listrik Ethiopia, Sileshi Bekele.

Bekele menambahkan bahwa Ethiopia sedang membangun bendungan sesuai jadwal, kualitas, serta  standar yang dibutuhkan oleh bendungan ity. Selain itu dia menyatakan bahwa negaranya telah menyediakan sekitar 150 dokumen yang terkait dengan situasi hidrologi bendungan dan informasi lainnya mengenai bendungan tersebut. Jadi keterangan kepada Mesir dan Sudan sudah dilakukan secara transparan.

Menteri Etiopia mengklaim bahwa Mesir tidak cukup memahami manfaat bendungan tersebut. Ini menanggapi pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi bahwa air Sungai Nil adalah masalah hidup dan mayi bagi warga Mesir. Dia puj berkata bahwa GERD berarti juga hidup atau mati untuk Ethiopia juga.

Pada bulan Desember 2015, Mesir, Sudan, dan Ethiopia menandatangani sebuah kesepakatan di Khartoum untuk mengakhiri keretakan atas GERD. Mereka menegaskan beberapa "deklarasi prinsip" antara ketiga negara. Perjanjian prinsip tersebut sebelumnya ditandatangani oleh presiden ketiga negara pada bulan Maret 2015.

Hegemoni etnik Ethopia

Profesor sumber daya tanah dan air di Universitas Kairo, Nader Nour El-Di,n mengatakan kepada Daily News Egypt bahwa Ethiopia ingin menguasai seluruh volume air yang jatuh di wilayahnya. Dia menambahkan bahwa "sejarah mengacu pada kegagalan semua perundingan Ethiopia dan bahwa Ethiopia hanya menghormati prinsip kekuasaannya. Itu jelas terlihat ketika mereka memanfaatkan kesempatan revolusi 25 Januari untuk memulai manuvernya dalam membangun Bendungan Renaisans dan menyelesaikan masalah kesepakatan Entebbe," ujarnya.

Kunjungan Presiden Al-Sisi ke negara-negara Afrika kini menjadi hal yang sangat penting untuk memulihkan peran Mesir dalam memimpin benua tersebut. "Juga, kehadiran presiden Mesir di KTT Nil Basin menambahkan nilai pada pertemuan ini," kata Nour El-Din.

Dia mengatakan bahwa Mesir memang harus bersikeras untuk menghadiri pertemuan ini, uakni untuk mencegah pelaku eksternal memanipulasi "takdir orang lain. Dia menambahkan, Ethiopia ingin menampung seluruh jumlah air yang jatuh di wilayahnya yang seluar 72 miliar meter persegi untuk sebagai jualan air ini ke tetangganya. Juga, Ethiopia mengklaim bahwa Mesir menghabiskan sejumlah besar air untuk mengairi padang pasir. "

Dalam sebuah posting di akun Facebook-nya, Nour El-Din menghubungkan penolakan orang-orang Ethiopia terhadap usulan Mesir untuk menambahkan Bank Dunia untuk melakukan negosiasi mengenai GERD terhadap keinginan Ethiopia. Dia paham itu mereka lakukan untuk memastikan tidak adanya saksi internasional atau laporan PBB yang membuktikan dampak bendungan tersebut terhadap Mesir.

Dia juga, menambahkan bahwa Ethiopia telah menerima pembentukan sebuah komite internasional termasuk para ahli Jerman, Inggris, Prancis, dan Afrika Selatan pada tahun 2011 untuk mengevaluasi dampak bendungan tersebut. Pada tahun 2013, panitia mengeluarkan laporannya yang menunjukkan bahwa bendungan tersebut dibangun tanpa penelitian awal, dan melanggar persyaratan untuk membangun bendungan di sungai internasional.

Setelah ini, "Ethiopia meminta ahli nasional hanya untuk mencegah Mesir menahan bukti yang membuktikan dampak negatif bendungan tersebut. "Mereka menyatakan Mesir harus meminta kewajiban yang ditandatangani oleh Ethiopia yang memastikan bahwa Ethiopia akan menjaga aliran air ke Mesir dari Sungai Nil Biru. tulis Nour El-Din di posting Facebooknya.

Lima langkah untuk kesepakatan

Elfatih AB Eltahir, profesor hidrologi dan iklim di Massachusetts Institute of Technology mengatakan bahwa Mesir tidak diajak berkonsultasi saat pengumuman pembangunan GERD.

"Untuk mengatasi konflik air Nil secara efektif di antara tiga negara, kuncinya adalah tidak berfokus pada bagaimana kita mengisi waduk di belakang bendungan di sini atau di sana. Jadi melainkan untuk mengatasi akar penyebab masalah dengan menemukan cara untuk mengekang pertumbuhan populasi, dan memelihara kesuburan tanah di lembah sungai Nil," kata Eltahir.

Eltahir mengusulkan beberapa elemen penting untuk mencapai kesepakatan berkelanjutan mengenai pembagian air antara Ethiopia, Mesir, dan Sudan. Kelima elemen tersebut termasuk mencapai kesepakatan antara ketiga negara untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk, dan komitmen dari ketiga negara untuk berinvestasi pada teknologi pertanian baru seperti benih yang lebih baik, penggunaan pupuk yang lebih baik, dan teknologi penggunaan air yang efisien. Penggunaan air untuk irigasi lahan pertanian, seperti adanya sistem irigasi tetes, yang memang sudah diperlukan.

Dia juga menyarankan dalam sebuah artikel: daripada menghalangi upaya untuk membangun GERD. kedua kedua negara hilir (terutama Mesir) harus berkomitmen untuk memainkan peran sebagai pelanggan terpercaya untuk listrik Ethiopia yang itu harus dijual dengan harga pasar yang adil. Menurutnya, ini pula harus memastikan fluktuasi mata uang yang berkelanjutan dari Mesir ke Ethiopia, yang akan membiayai rencana pembangunan yang sangat dibutuhkan dan membantu mempertahankan ekonomi Ethiopia.

Mengingat disparitas alam dalam distribusi curah hujan antara Ethiopia dan Mesir, Ethiopia memang harus mengembangkan pertanian dengan tadah hujan dan bukan pertanian irigasi. Itu dilakukan sambil memastikan fluktuasi tahunan aliran air  yang berkelanjutan. Mau tidak mau mendekati arus laju air ke Sudan menga harus dibagi. Dan ini ada dalam kesepakatan terpisah antara Sudan dan Mesir," tandas Eltahir mengatakan.

Dia menambahkan bahwa negara-negara di Lembah Sungai Nil Timur harus pula mengembangkan pendekatan regional yang sama untuk. Terutama untuk menggabungkan potensi dampak perubahan iklim terhadap curah hujan dan arus sungai dalam kesepakatan yang dinegosiasikan.

Solusi Dalam Upaya Diplomasi

Profesor hukum internasional Ayman Salama mengatakan kepada Daily News Egypt,"Kesepakatan Khartoum tahun 2015 telah menekankan bahwa hanya sarana diplomatik damai yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perselisihan mengenai penerapan kesepakatan antara ketiga negara. Kesepakatan ini tidak menyebutkan cara internasional untuk arbitrase internasional yang mengikat tiga negara [Mesir, Sudan, dan Ethiopia."

Salama juga menambahkan bahwa butuh niat baik dari semua pihak. Mesir harus dapat meminta penerimaan Ethiopia untuk meminta arbitrase internasional. Jadi nantinya komite arbitrase internasional dapat memberikan temuannya.

Mengenai usulan Mesir untuk mengundang Bank Dunia untuk melakukan perundingan, Salama mengatakan bahwa Mesir tidak memberi tahu bank dunia tersebut sebelum memberi saran kepada pihak mengajukan proposal, yakni orang-orang Etiopia. Dan  dia yakin bila bank dunia itu sendiri tidak akan menerima mediasi.

Redaktur : Muhammad Subarkah
Sumber : dailynewsegypt.com