Memasuki Yerusalem-Palestina Ketika Suhu 10 derajat Celcius
Jumat , 29 Desember 2017, 09:19 WIB

Al Jazeera.com
Suasana kota yerusalem

Negara yg terjajah dan tersisihkan sejengkal demi sejengkal oleh bangsa Yahudi Israel kami masuki melalui Allenby bridge selepas perbatasan Jordania.

Suhu yg tak begitu dingin (16°c)  menyambut kami diperbatasan itu, semakin masuk ke Palestina; Jericho lalu Jerussalem terasa smakin dingin sampai 10°c. 

Urusan visa di counter imigrasi lancar tak tertahan. Hanya ketika alat pemindai x ray memeriksa tas kami diperiksa berulang pada beberapa tas kami sampai tali ransel pun ditempel semacam metal detector seakan-akan setiap inci tas kami bisa membawa barang berbahaya,  sikap ramah petugas israel tak bisa menutupi ketakutan mereka akan "bantuan" yg mungkin bisa jadi datang menolong rakyat Palestina utk mneghancurkan mereka.

 

Setelah itu, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan bus menuju Jericho, kota tertua di dunia,  beberapa ruas jalan di area kosong di dekat pos penjagaan tentara Israel kami dapati banyak aspal berwrna hitam sisa ban dibakar, sebagai  tanda protes mereka terhada kebijakan Presiden Donald Trump yang memindahkan ibu kota Israel ke Yeursalem Timur.

Maka di situ saya sadar, jangan tanya lagi tentang kebencian rakyat Palestina terhadap Israel, sudah mendidih sampai ke atas ubun-ubun. Tapi hanya di jalan itu saja kami dapati bekas demonstrasi.

Selain itu, perjalanan rombongan city tour kami ke menuju Bethlehem melalui Hebron aman lancar. Ketika akan memasuki kota Hebron untuk ziarah ke makam nabi Ibrahim AS.

Sesamai di pos jaga terlihat beberapa jalan masuk ke kota itu. Di situ kami ditanya dari mana mau ke mana serta dimintai ‘id card Palestinian guide’

Agak berbeda dengan tahun lalu saat kami berkunjung ke tempat yang sama, kini saya semakin meyakinkan bila posisi Palestina kini seakin terancam untuk punah. wilayahnya akan dicaplok sedikit demi sedikit.

Menurut informasi dari penjaga pintu di Masjidil Aqsha, orang-orang Yahudi kini semakin hari semakin berani mengusik ketenangan Masjidil Aqsha,  Menurutnya, situasi tampak terlihat dalam beberapa hari pasca perngumuman  keputusan Donald Trump itu. Kala itu beberapa orang Yahudi berani memasuki dan mengitari kompleks Masjidil Aqsha seraya berteriak-teriak.

 

Namun, ketika kami datang  orang-orang Palestina terlihat begitu ramah menyambut kedatangan kami. Mereka selalu mngucapkan salam lebih dahulu dan sering bertanya kami dari mana.

Bahkan, imam masjidil Aqsha sendir menyapa langsung kami lebih dulu ketika bertrmu tak sengaja di halaman masjid. Bahkan ada beberapaorang Palestina menyedikan minuman jahe hangat di halaman masjid. Beberpa orang dewasa menawari jual beli Alquran.  Beberapa orang tua dan anak kecil ada yang meminta-minta secara langsung dengn sedikit memaksa kepada kami baik ketika kami berada di Hebron, atau di jalanan menuju masjidil  Aqsha.

Meski begitu, kami tidak memberi mereka  karena melalui informasi yang kami dapat dari petugas penjaga masjid Muslim Pelestina,  mereka yang meminta-minta itu sama sekali tidak miskin. Katanya, mereka hnya memanfaatkan kesengsaraan saudara-saudara mereka di Gaza dan Tepi Barat dengan meminta-minta.

“Jika ada yang mau sedekah atau infaq untuk rakyat Palestina yg tertindas sebaiknya disalurkan melalui yayasan sosial yg counternya ada di dalam kompleks Masjidil Aqsha. Merekalah yang  punya data akurat tentang siapa siapa yang butuh uluran tangan kalian,’’ kata penjaga masjid Al Aqsha menerangkan.

Sumber: Laporan Ustadz Yudi Patuna, langsng dari Yerusalem.

Redaktur : Muhammad Subarkah