Eka: Banyak Variabel yang Memengaruhi Haji Wafat
Ahad , 08 Oct 2017, 17:29 WIB

Republika/Nashih Nasrullah
Kapuas Haji Kementerian Kesehatan, Eka Jusuf Singka menjelaskan sebanyak 103 jamaah haji Indonesia mengikuti safari wukuf. Sedangkan 135 jamaah haji dinyatakan harus badal karena sakit parah. Sedangkan untuk jemaah yang meninggal dunia, petugas PPIH akan membadalkan hajinya.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Total jamaah haji Indonesia yang wafat dalam musim haji 1438 H, lebih banyak bila dibandingkan dengan musim haji tahun sebelumnya. Namun demikian, untuk membuat analisis mengapa sampai jamaah haji yang wafat ini lebih banyak, merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

"Banyak variable yang mempengaruhinya, dari berbagai sisi," kata Kepala Pusat Kesehatan Haji dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dr Eka Jusuf Singka kepada Republika.co.id, Ahad (8/10)

Eka mengatakan, faktor eksternal seperti cuaca yang panas. Juga aktivitas jamaah yang diluar dari kemampuan fisiknya sangat berpengaruh terhadap timbulnya penyakit atau memperberat penyakit yang diderita oleh jamaah.

Pengetahuan dan sikap jamaah terhadap pola hidup sehat dan aktivitas menjalankan ibadah sangat mempengaruhi perilaku jamaah saat di Arab Saudi. Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan jamaah memforsir tenaganya diluar kemampuan jamaah. "Sehingga banyak dijumpai jamaah kelelahan, dehidrasi bahkan meninggal dunia," ujarnya.

Eka melanjutkan, faktor internal yang mempengaruhi jamaah haji wafat adalah penyakit yang dideritanya. Ditambah stressor eksternal yang memperberat kondisi penyakitnya. "Tahun ini jamaah haji jumlahnya mencapai 221 ribu dengan jumlah jamaah haji risiko tinggi mencapai 63 persen," katanya.

Artinya, ada sekitar 140 ribu jamaah haji yang perlu dikawal dengan baik agar mereka dapat menjalankan ibadahnya secara sempurna. Menjalankan rukun dan wajib haji yang penuh dengan aktivitas fisik.

"Hal yang paling penting adalah membuat masyarakat sadar dan paham benar bahwa ibadah haji adalah ibadah khusus yang melibatkan aktivitas fisik dengan syarat yang harus diperhatikan," ujarnya.

Menurut Eko, syarat tersebut antara lain adalah istithaah yang bukan saja dari sisi finansial sanggup membayar ongkos naik haji (ONH). Tetapi juga sanggup dalam kesehatannya. Kasihan jamaah haji sudah bayar ONH mahal-mahal tetapi saat di Tanah Suci hanya jadi penghuni rumah sakit atau KKHI. Mereka tidak dapat menjalankan rukun dan wajib haji. Akhirnya mereka harus dibadalkan juga.

"Semoga tahun depan jamaah haji dapat lebih bijak dalam melihat kemampuan mereka dan apa yang akan mereka lakukan di Tanah Suci terkait ibadahnya yang sangat rentan dengan aktivitas fisik dan dipengaruhi banyak faktor stressor eksternal yang dapat memperberat kondisi kesehatannya," ujarnya.

Berita Terkait

Redaktur : Agus Yulianto
Reporter : Fuji Eka Permana
BERITA TERKAIT