Sebelum ke Madinah, ini Ketentuan Bagasi Bagi Jamaah Haji
Senin , 11 Sep 2017, 15:49 WIB

Republika/Nashih Nashrullah
Jamaah haji Indonesia menunggu keberangkatan pesawat di Bandara Internasional King Abdul Aziz Jeddah

IHRAM.CO.ID, MAKKAH— Kebiasaan jamaah haji Indonesia membawa barang berlebih dari Makkah ke Madinah mendapat sorotan. Jamaah pun diminta hanya membawa barang-barang prioritas menuju Madinah.

Imbauan ini menyusul pemberangkatan 16 kelompok terbang jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam gelombag II akan didorong dari Makkah ke Madinah mulai besok, Selasa (12/9) sejak pukul 06.00 waktu Arab Saudi hingga pukul 18.30 WAS. 

Kepala Seksi Transportasi Daker Makkah, Asep Subhana, menjelaskan kecenderungan hampir tiap tahun jumlah barang bawaan jamaah yang didorong dari Makkah ke Madinah membengkak. Biasanya mereka sudah memenuhi koper mereka dengan ragam belanjaan dari oleh-oleh hingga peralatan memasak. 

Dia pun mengimbau jamaah tidak memaksakan diri membawa keseluruhan barang jika tidak memungkinkan. Bila  memang barang tertentu bisa dibeli di Madinah, lebih baik membelinya di Madinah. “Seperti ember dan rice cooker sebaiknya ditinggakan di sini karena sulitkan angkutan bagis bis yang terbatas,” kata dia di Kantor Daker Makkah, Senin (11/9) seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id, Nashih Nashrullah, dari Makkah, Arab Saudi.  

Menurut dia, overload bagasi tersebut cukum menyulitkan karena barang-barang jamaah yang tidak terangkut bagasi bus akan diangkut ke truk yang disediakan oleh pihak perusahaan pengelola armada bus dan terpisah dari pemberangkatan jamaah. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan ada sekitar 6570 jamaah akan diangkut ke Madinah. Mekanisme dan rute Makkah ke Madinah memang sedikit berbeda karena terkait dengan waktu check in dan check out hotel yang akan ditempati jamaah selama di Madinah. 

Pemberangkatan terlalu cepat akan mengakibatkan ketibaan terlalu dini. Sementara penghuni hotel sebelumhya belum chek out. Ini bisa mengakibatkan jamaah mengantri di bus hingga berjam-jam dan memicu kemacetan.”Ini tentu merepotkan,” kata dia.     

Namun di satu sisi, pemberangkatan yang terlambat hingga berjam-jam akan berakibat berkurangnya waktu pelaksanaan arba’in sehingga merugikan jamaah. Untuk mengantipasi hal ini, pihaknya tahun ini mulai mengujicoba pemberangkatan jamaah ke Madinah empat hingga lima jam dari jadwal check out jamaah di Madinah. Lebih baik terlambat satu sampai dua jam di hotel Madinah daripada datang lebih awal atau telat hingga berjam-jam.

“Terlalu cepat rugikan dan terlalu lambat juga kasihan jamaah. Jangan lebih dari satu jam jamaah terlambat,” kata dia.    

 

Redaktur : Nasih Nasrullah

BERITA LAINNYA