Dapur Katering Madinah Siap Layani Jamaah Haji
Senin , 31 July 2017, 11:00 WIB

Republika/ani nursalikah
Aktivitas di dapur katering Madinah

IHRAM.CO.ID, Laporan wartawan Republika.co.id Ani Nursalikah dari Madinah

MADINAH -- Dapur katering Madinah siap melayani jamaah calon haji. Kasubdit Katering Daker Madinah Ahmad Abdullah mengatakan sudah mengecek kesiapan seluruh perusahaan penyedia katering jamaah haji Indonesia. Ada 13 perusahaan katering yang dikontrak di Madinah untuk melayani konsumsi jamaah.

"Secara umum seluruh perusahaan yang akan melayani gelombang pertama yang jumlahnya kurang lebih 100 ribu ini menyatakan siap, kata Ahmad saat melakukan sidak di dapur perusahaan katering Al Yasirah Al Arabiyyah di Madinah, Ahad (30/7). 

 

Saat tim pengawas mengunjungi, di dapur super besar itu sedang berlangsung proses pengemasan makanan. Para pekerja dapur yang terdiri atas pekerja Sudan dan Bangladesh tampak sibuk mengisi kotak-kotak makanan. Mereka sedang mengemas makanan untuk makan malam. 

 

Meski telah dikontrak dan memenuhi standar, pengecekan kualitas tetap dilakukan setiap hari. Tim pengawas akan berkeliling melakukan pemeriksaan dan mencoba sampel makanan.

 

"Jangan sampai ada yang tidak standar karena ini demi kenyamanan dan keamanan jamaah," kata Ahmad. 

 

Tahun ini, Kemenag kembali mengontrak Al Yasirah untuk kedua kalinya. Tahun lalu mereka melayani 15 ribu porsi. Karena penilaian cukup bagus, jumlah order pun bertambah menjadi 18 ribu porsi.

 

Kapasitas dapur ini memang besar, mampu memproduksi 50 ribu porsi makanan. Sekali masak sekaligus tiga hingga empat kuintal beras. Luas dapurnya 8.000 meter persegi. Alat-alat yang digunakan semuanya berukuran raksasa. Dapur ini memiliki empat reatoran.

 

Manajer Operasional Al Yasirah Doni Syarif Pramono dengan bangga mengatakan dapurnya bahkan melayani pesanan Raja Salman untuk bersedekah membagikan makanan. Selain memasok makanan untuk jamaah Indonesia, mereka juga menyuplai makanan untuk jamaah haji Mesir dan Turki.

 

Dia mengatakan selama dua tahun bekerja sama selalu mengikuti menu yang telah ditetapkan Kemenag.  Alumni Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung ini mengaku selalu berusaha menjaga cita rasa masakan nusantara serta kesegaran makan yang akan disajikan kepada jamaah Indonesia.

 

Doni mengaku tidak ada kendala dalam menyajikan makanan bercita rasa nusantara. Dia juga tak kesulitan memnuhi permintaan sayuran karena semua tersedia di Saudi. "Bumbu masak ada semua tapi dikeringkan," katanya. 

 

Setelah makanan dikemas, dimasukkan dalam hot cabinet dengan suhu 80 derajat Celsius. Makanan harus sampai ke tangan jamaah maksimal dalam dua jam.  

 

Ahmad mengatakan ada sejumlah aspek yang dinilai dalam proses pengawasan katering, mulai dari proses produksi, pengolahan makanan, kebersihan packaging (higienis), dan proses distribusi. Distribusi juga kita nilai apakah petugsnya sopan atau tidak dalam menyajikan karena jamaah adalah pelanggan, ujarnya.

Redaktur : Dwi Murdaningsih