Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Thursday, 15 Zulqaidah 1440 / 18 July 2019

Menelusuri Kota Cordoba yang Mengagumkan

Kamis 24 Jan 2019 16:36 WIB

Red: Agung Sasongko

Masjid Agung Cordoba yang kini jadi katedral.

Masjid Agung Cordoba yang kini jadi katedral.

Foto: http://coursesa.matrix.msu.edu
Keseluruhan area kota terbagi menjadi pusat kota, pinggir kota, dan luar kota.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dari catatan Thomas F Glick, pada masa Abd al-Rahman I memegang kekuasaan, populasi di Cordoba sudah mencapai 25 ribu jiwa. Jumlah itu terus bertambah hingga menjadi 100 ribu jiwa pada abad kesepuluh, katanya dalam artikel yang berjudul Islamic and Christian Spain in the Early Middle Ages.

Pertumbuhan kota tak terelakkan, terutama terkait penyediaan lahan perumahan serta perekonomian. Cordoba adalah magnet bagi penduduk dari berbagai wilayah dan negara. Karenanya perlu diatur sedemikian rupa. Seluruh pembangunan diarahkan ke area-area tertentu sesuai fungsinya.

Begitu pula mulai muncul kota-kota satelit baru guna menunjang kehidupan di kota utama. Glick menyebutkan, struktur dan tata kota dikembangkan mengikuti sistem peninggalan bangsa Romawi. Kordoba sendiri dirancang sebagai kota terpadu. Di dalamnya mencakup fasilitas pemerintahan, perdagangan, maupun permukiman.

Untuk itu, sistem jalan yang representatif dan terintegrasi sangat dibutuhkan. Seperti ciri kota Romawi lainnya, Kordoba dibangun bak benteng dengan pintu gerbang utama di empat penjuru mata angin. Muslim mengembangkan rintisan tata kota peradaban Romawi ini.

Bagian-bagian kota Cordoba

Glick menguraikan, keseluruhan area kota terbagi menjadi pusat kota, pinggir kota, dan luar kota. Di jantung kota terkonsentrasi kantor-kantor pemerintahan. Masjid Kordoba didirikan pada lokasi yang sama agar memudahkan masyarakat mencapainya. Di pusat kota pula Abd al-Rahman membangun istananya nan megah.

Demi menambah kenyamanan, kota dihiasi taman-taman, pelataran yang luas, juga air mancur. Lapangan rumput terdapat di beberapa bagian kota. Jalanan yang lebar memudahkan warga untuk beraktivitas. Kegiatan warga berpusat di sentra-sentra perdagangan. Pasar biasanya berada tak jauh dari pusat kota atau dekat dengan masjid.

Di area tertentu berdiri pasar yang menjajakan barang dagangan. Misalnya, pasar perhiasan, kerajinan, atau toko buku. Perniagaan dan kegiatan sosial juga bisa berlangsung di ruas jalan tertentu atau pelataran. Jalan utama yang disebut dengan zuqaq al-kabir terhubung dengan pintu gerbang.

Lokasi itu menjadi area publik yang paling ramai. Karena itu, pemerintah menetapkan larangan agar di sana tak dibangun perumahan. Adapun kawasan permukiman terletak di wilayah pinggir kota. Tidak seperti di pusat kota, jalanan di wilayah permukiman dirancang tidak terlalu lebar. Hanya sekitar tiga meter.

Jalan dibuat berkelok-kelok mengikuti kontur alam yang ada. Ini bertujuan agar sistem drainase dapat berfungsi baik sewaktu hujan turun. Tata letak permukiman menggunakan sistem blok. Menurut Glick, satu blok terdiri dari delapan atau sepuluh bangunan rumah. Pengaturan ini sangat penting untuk melahirkan kerapian.

Blok semacam itu juga bertujuan layaknya kluster perumahan pada masa modern sekarang, yaitu mengefektifkan pengamanan lingkungan. Beberapa kawasan permukiman, dihuni oleh komunitas non-Muslim, terutama penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka melengkapi kawasannya dengan sarana ibadah, pendidikan, dan perdagangan.

Dari kalangan Muslim, sejumlah komunitas membentuk kawasan tersendiri misalnya kaum Barber dari Afrika Utara. Kota satelit dibangun demi memperkuat daya dukung kota. Antara lain kota Madina al-Zahra dan Calatrava. Di lokasi itu berdiri banyak sarana, seperti kantor pemerintah dan fasilitas publik.

Untuk wilayah luar kota, kawasan ini digunakan sebagai pusat pertanian, pertambangan, dan industri. Kawasan sebelah tenggara, seperti Zaragoza, dikenal beriklim sejuk dan sangat subur. Dari sini berbagai produk pertanian, seperti gandum, buah-buahan, dan zaitun, dihasilkan dan didistribusikan ke sejumlah kota.

Sevilla menjadi pusat pengekspor kapas, zaitun, dan minyak, di samping merupakan kota pelabuhan terbesar. Dari wilayah Malaga dan Jaen, di sana ditanam kunyit, daun ara, juga dijadikan sentra kerajinan marmer. Sementara itu, di Toledo serta Almeria banyak ditemui perajin logam dan baja.

Majunya sektor perekonomian membuat kota-kota tadi turut bertumbuh pesat. Glick mengungkapkan, pembangunan kota-kota itu dilakukan serupa dengan konsep yang terdapat di Cordoba. Namun, mereka memiliki kekhususan. Kota Leon adalah pusat militer. Sedangkan, Santiago menjadi rute penting jamaah haji.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA