Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Donald Trump Cabut Keringanan Sanksi Iran

Selasa 23 Apr 2019 10:13 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Minyak Iran/ilustrasi

Minyak Iran/ilustrasi

Foto: uskowioniran.com
Semua importir akan mendapatkan sanksi dari AS jika membeli minyak Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memuji langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mencabut keringanan beberapa negara terhadap sanksi Iran pada bulan Mei mendatang. Semua importir minyak Iran akan mendapatkan sanksi dari AS jika diketahui membeli minyak dari negara itu. 

"Keputusan presiden Trump salah satu keputusan yang paling penting dalam upaya meningkatkan tekanan kepada rezim teror Iran, kami berada di pihak AS yang bertekad untuk menentang agresi Iran dan ini hal ini cara yang tepat untuk menghentikannya," kata Netanyahu seperti dilansir di Haaretz, Selasa (23/4). 

Baca Juga

Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan AS, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab sudah sepakat untuk mengambil langkah untuk mengamankan permintaan minyak dunia. Hal itu demi memastikan agar pasar minyak global bersih dari minyak Iran.  

AS mengumumkan kepada seluruh pembeli minyak Iran untuk segera mengakhiri impor mereka atau akan mendapatkan sanksi. Hal itu memicu kenaikan harga minyak sebesar 3 tiga persen. Trump mengatakan Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya 'dapat menutupi' penurunan pasokan minyak Iran di pasar global. 

"Arab Saudi dan negara OPEC lainnya akan lebih daripada sekedar menutupi Oil Flow dalam Sanksi Penuh kami terhadap Minyak Iran," kata Trump di Twitter.  

Pelaksana Tugas Menteri Luar Negeri Israel Yisrael Katz juga menyambut keputusan Trump tersebut. Ia mengatakan hanya dengan langkah keras yang dapat memaksa rezim Iran untuk sepenuhnya menghentikan program nuklir mereka yang berbahaya. 

"Dan dukungan mereka terhadap Hizbullah dan organisasi teror lainnya di kawasan, Israel akan terus menjadi sekutu loyal Amerika dalam pertempuran melawan agresi Iran," katanya. 

Sementara, Turki mengecam langkah tersebut. Menurut mereka, hal itu merusak perdamaian dan stabilitas kawasan. 

"Kami tidak dapat menerima sanksi unilateral dan gangguan terhadap bagaimana kami membangun hubungan dengan tetangga kami," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavasoglu di Twitter. 

Benchmark atau tolak ukur global Brent menunjukkan sebagai tanggapan langkah itu perdagangan Asia Senin (22/4) pagi kemarin minyak mentah naik 3,2 persen menjadi 74,30 dolar AS per barel. Angka itu menjadi tertinggi sejak 1 November tahun lalu. Sementara US West Texas Intermediate naik 2,9 persen menjadi 65,87 barel, tertinggi sejak Oktober 30 2018. 

Dalam beberapa pekan terakhir Trump memang sudah menegaskan kepada tim keamanan nasionalnya ia ingin keringanan sanksi Iran diakhiri. Penasihat Keamanan Nasional John Bolton tengah bekerja menyelesaikan isu ini dengan pemerintah AS. 

Sejak AS kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran, ada delapan negara yang mendapat keringanan yakni Cina, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Turki, Italia dan Yunani. Tapi, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengumumkan sejak 2 Mei mendatang tidak ada lagi negara yang mendapat keringanan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA