Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Turki: Kebijakan AS untuk Suriah tidak Jelas

Kamis 04 Apr 2019 15:00 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

 Pemandangan kota yang hancur, penuh dengan puing-puing yang berserakan akibat perang saudara di kota Homs, Suriah, Ahad (9/3).  (Reuters/Thaer Al Khalidiya)

Pemandangan kota yang hancur, penuh dengan puing-puing yang berserakan akibat perang saudara di kota Homs, Suriah, Ahad (9/3). (Reuters/Thaer Al Khalidiya)

Kebijakan AS untuk Suriah dinilai Turki berbeda-beda.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu menilai Amerika Serikat (AS) tidak memiliki strategi jelas untuk Suriah. Hal itu terlihat dari perbedaan yang berasal dari berbagai pemerintahannya mulai dari kementerian luar negeri, kementerian pertahanan, maupun militer di lapangan.

"Posisinya berbeda-beda. Tidak ada strategi yang jelas. Ini masalahnya," ujar Cavusoglu seperti dilansir Anadolu Agency, Kamis (4/4). Hal itu dikatakan Menlu Turki saat acara NATO yang diselenggarakan oleh lembaga think thank Dewan Atlantik di Washington pada Rabu waktu setempat. Menurutnya, dia malah tidak mengetahui apa kebijakan AS di Suriah.

Presiden AS Dondald Trump mengumumkan pada Desember 2018 bahwa SS akan menarik pasukan AS dari Suriah. Langkah itu pun mengejutkan berbagai sekutu Washington.

Pentagon kemudian mengumumkan pada Februari lalu bahwa ratusan tentara akan tetap berada di Suriah setelah penarikan AS guna menciptakan zona aman di sepanjang perbatasan Turki-Suriah.

AS telah mendukung Syrian Democratic Forces (SDF) di Suriah. SDF diketahui sebagai sebuah kelompok yang dipimpin oleh PYD/YPG, cabang Suriah dari organisasi teror PKK. Selama lebih dari 30 tahun, PKK, yang terdaftar sebagai kelompok teror oleh Turki, AS, dan Uni Eropa, telah melakukan kampanye teror terhadap Turki yang telah menyebabkan kematian 40 ribu orang.

Lebih dari 1.200 korban, termasuk personel keamanan dan warga sipil kehilangan nyawa mereka sejak PKK melakukan aksi teror pada Juli 2015. Turki telah berulang kali mengangkat masalah keamanan setelah penarikan pasukan yang diumumkan. Menurut Turki, penarikan pasukan itu akan memberi ruang bagi PYD/YPG untuk memperluas operasi mereka.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA