Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Tuesday, 26 Jumadil Awwal 1441 / 21 January 2020

Sejarah Negeri Uni Emirat Arab (1)

Jumat 08 Mar 2019 22:37 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Bendera Uni Emirat Arab

Bendera Uni Emirat Arab

Foto: tangkapan layar google
Sejarah Uni Emirat Arab (UEA) juga beririsan dengan sejarah Nabi SAW dan para sahabat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nama resmi negara ini adalah Dawlat al-Imārāt al-Arabīyah al-Muttaḥidah. Secara geografis, Uni Emirat Arab (UEA) terletak di pantai timur Semenanjung Arabia. Wilayahnya berbatasan dengan Teluk Persia di sebelah utara, Arab Saudi di selatan dan barat, serta Oman di timur.

Minyak dan gas bumi menjadi andalan untuk menopang perekonomian setempat. Penemuan sumber daya alam (SDA) itu pada 1960-an merupakan faktor penting di balik bersatunya enam emirat, sehingga terbentuklah UEA. Sebelumnya, mereka berstatus protektorat Inggris Raya di mana negeri Albion itu mengakuinya sebagai perhimpunan suku-suku lokal (Trucial Coast).

Wilayah yang kini bernama UEA pada masa silam lebih dikenal sebagai kota pelabuhan. Banyak kapal laut dari berbagai penjuru negeri, utamanya via jalur maritim Samudra Hindia, yang bersandar di sana.

Posisi daerah tersebut juga sangat strategis di bibir Teluk Persia. Hal itu menjadikannya terlibat dalam perdagangan melalui rute Samudra Hindia yang menghubungkan Cina, Nusantara, India, dan Asia Barat serta Eropa.

 

Kaitan dengan Sejarah Nabi SAW

Menjelang dan sesudah pembebasan Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW gencar mengirim utusan ke pelbagai wilayah untuk mendakwahkan Islam, baik kepada penduduk Arab maupun non-Arab. Daerah Arab Timur di pesisir Teluk Persia termasuk yang menerimanya dengan baik. Komunitas Muslimin pun mulai tumbuh dan berkembang di sana sejak saat itu.

Sayangnya, keadaan sempat berguncang setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada 632. Di bawah kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq, banyak daerah pinggiran yang membangkang terhadap Rukun Islam, utamanya kewajiban menunaikan zakat. Bahkan, tidak sedikit yang terang-terangan murtad atau mengangkat tokoh terdekatnya sebagai “nabi” baru. Sang khalifah pun bersikeras terhadap mereka setelah ajakan untuk bertaubat tidak diindahkan. Dalam sejarah Islam, peristiwa demikian melatari pecahnya Perang Riddah.

Menurut sejarawan Muhammad Husain Haekal, keputusan Abu Bakar sudah tepat karena kekacauan akan lebih meluas ke seluruh kawasan Arab dan kedaulatan Islam tidak akan terwujud bila dia terus bersikap lunak terhadap para pembangkang. Padahal, di antara para sahabat Nabi SAW, Abu Bakar masyhur akan kelembutan hati dan tutur katanya.

Ketegasan Abu Bakar selama menjadi khalifah pertama ditunjang tekadnya untuk meneruskan apa yang sudah digariskan Islam dan legasi Rasulullah SAW.

Dalam konteks Perang Riddah, misalnya, ayahanda ummul mukminin Aisyah itu berkata kepada Umar bin Khaththab, “Demi Allah, aku akan memerangi siapa pun yang memisahkan shalat dengan zakat.” Seperti diketahui, sering kali perintah shalat di dalam Alquran disertai dengan imbauan berzakat. Mendengar argumen tersebut, Umar menjawab, “Demi Allah, tiada lain yang harus kukatakan, semoga Allah melapangkan dada Abu Bakar dalam berperang. Aku tahu dia benar.”

Salah satu lokasi Perang Riddah adalah Dibba, yang kini termasuk wilayah emirat Fujairah, UEA.

photo
Peta Uni Emirat Arab

Kemenangan Abu Bakar dan pasukannya dalam pertempuran yang berdurasi satu tahun itu ikut menstabilkan kedaulatan Islam di Jazirah Arab bagian timur. Pada gilirannya, kekhalifahan Umar dan Utsman mulai melebarkan pengaruh Islam ke luar Arab, termasuk Persia, Mesir, Yerusalem, dan Suriah.

Pada 637, pasukan Muslimin menjadikan Julfar, yang kini emirat Ras al-Khaimah, sebagai markas dan pelabuhan utama untuk persiapan menghadapi Persia. Wafatnya Ali bin Abi Thalib mengakhiri riwayat kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yang gemilang.

Selanjutnya, Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah menguasai Jazirah Arab. Geoffrey R King dalam artikelnya, “The Coming of Islam and the Islamic Period in the UAE” (2001) menyebutkan abad kesembilan sebagai masa awal penyematan nama-nama secara resmi daerah yang kelak menjadi UEA.

Ibn Khurradadhbih, yang pernah menjadi pejabat di lingkungan Abbasiyah menulis pada 885 tentang rute yang biasa dilaluinya sepanjang pesisir Teluk Persia. Dalam perjalanan dari Semenanjung Oman menuju Makkah, dia menyebutkan nama daerah-daerah yang dilaluinya, yakni ‘Awkalan, Habat, al-Shihr.

Ketiganya diduga terletak di daerah yang kini emirat Fujairah. Penulis-penulis selanjutnya, semisal al-Idrisi, Abu’l-Faraj Qudama, dan al-Maqdisi, juga mendeskripsikan keadaan daerah-daerah yang dilaluinya di kawasan yang sekarang Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: Sejarah Negeri Uni Emirat Arab (2)

sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA