Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Selasa, 15 Syawwal 1440 / 18 Juni 2019

Demonstrasi Gulingkan 6 Pemimpin Arab dalam 10 Tahun

Jumat 12 Apr 2019 15:14 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Warga Sudan berunjuk rasa di dekat gedung Kementerian Pertahanan di Khartoum, Sudan, Selasa (9/4). Mereka menuntut Presiden Omar al-Bashir mundur.

Warga Sudan berunjuk rasa di dekat gedung Kementerian Pertahanan di Khartoum, Sudan, Selasa (9/4). Mereka menuntut Presiden Omar al-Bashir mundur.

Foto: AP Photo
Empat pemimpin Arab mundur saat Musim Semi Arab dan dua lainnya pada 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Dalam 10 tahun terakhir, pemimpin dari enam negara anggota Liga Arab lengser. Mereka menanggalkan jabatan akibat derasnya tekanan rakyat yang menghendaki reformasi. 

Pada awal 2011, mantan presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali mundur dari jabatannya setelah memerintah selama hampir 25 tahun. Dia meninggalkan takhtanya setelah demonstrasi merebak di seluruh penjuru Tunisia. 

Baca Juga

Dilansir dari Anadolu Agency, gelombang demonstrasi di sana dipicu oleh aksi seorang pedagang kaki lima bernama Mohammed Bouazizi yang memprotes tindakan penganiayaan polisi Tunisia. Hal itu kemudian memicu fenomena yang dijuluki "Musim Semi Arab". 

Kurang dari sebulan setelah Ben Ali mundur, tepatnya pada Februari 2011, demonstrasi massa pecah di Mesir. Warga Mesir turun ke jalan-jalan dan berkumpul di Lapangan Tahrir Kairo menuntut Husni Mubarak mundur dari jabatannya sebagai presiden. 

Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun, akhirnya menyerahkan wewenangnya kepada militer.  

Muammar Qadafi adalah pemimpin Arab ketiga yang lengser dari jabatannya setelah 40 tahun memerintah. Dia akhirnya tewas setelah ditumbangkan. 

Pada 2011, presiden Yaman Ali Abdullah Saleh juga melepaskan jabatannya setelah pergolakan situasi akibat demonstrasi massa yang berlangsung selama tiga bulan dan menyebabkan sejumlah kematian. Enam tahun setelah pengunduran dirinya, Saleh dibunuh oleh kelompok pemberontak Houthi di luar Ibu Kota Sanaa. 

Hingga kini Yaman masih berkecamuk. Krisis kemanusiaan pun menyerang negara tersebut. Kondisi di sana semakin memburuk semenjak Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk memerangi Houthi pada 2015. 

Berselang delapan tahun kemudian, presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika mengundurkan diri setelah demonstrasi berlangsung selama berpekan-pekan. Jabatan presiden dia tinggalkan setelah memerintah selama 20 tahun. 

Posisi Bouteflika digantikan oleh Ketua Tinggi Majelis Parlemen Abdelkader Bensalah. Namun rakyat Aljazair tak menghendakinya berkuasa. Sebab, Bensalah dianggap masih menjadi bagian dari rezim Bouteflika. 

Pemimpin Arab yang baru-baru ini mengundurkan diri adalah presiden Sudan Omar al-Bashir. Negaranya dilanda krisis sejak dicantumkan Amerika Serikat sebagai negara pendukung terorisme. Setelah 30 tahun bertakhta, al-Bashir akhirnya mundur. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA