Thursday, 10 Rabiul Awwal 1444 / 06 October 2022

Negara Arab Segera Miliki Badan Antariksa Gabungan

Rabu 27 Mar 2019 11:54 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah / Red: Nashih Nashrullah

Satelit (ilustrasi)

Satelit (ilustrasi)

Foto: wreckamovie.com
Badan Antariksa Gabungan ini merupakan proyek kolaborasi peretama di bidang satelit.

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI — Impian Arab Saudi agar negara-negara Arab memiliki badan antariksa Arab segera menjadi kenyataan. 

Hal itu menyusul penandatanganan perjanjian pan-Arab pertama yang melibatkan Saudi dan 10 negara lain tentang mengoordinasikan program eksplorasi nasional di Kongres Luar Angkasa Global di Abu Dhabi pekan lalu.  

Baca Juga

Dilansir di Arab News pada Rabu (17/3), Penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum menjelaskan proyek pertama kolaborasi itu adalah sistem satelit di Uni Emirat Arab (UAE). 

"Saya pribadi percaya pada bakat Arab. Kami menyebut satelit baru kami '813' sehubungan dengan tanggal yang menandai awal kemakmuran bagi House of Wisdom di Baghdad, di bawah pemerintahan al-Ma'mun,” kata Mohammed.

Perjanjian serupa belum pernah terjadi pada negara dengan tingkat keahlian teknis yang bervariasi. 

Tujuan pertama dari perjanjian itu adalah membawa anggota yang memiliki kemampuan teknis setara. 

"Butuh beberapa saat, karena membutuhkan kepemimpinan yang tidak ada di sana, tetapi UEA sekarang telah menyediakannya," kata Direktur Direktorat Penelitian di Yayasan Kuwait untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan, Mohammad al-Ramadhan. 

Dia menjelaskan inisiatif tersebut akan mengembangkan dan mendukung peluncuran satelit bagi dunia Arab. 

Selain itu, proyek bersama itu memberi kesempatan para ilmuwan dan insinyur dari negara-negara Arab untuk berpartisipasi. 

“Dengan dorongan segar ini dan peluang yang diberikannya, masa depan (dunia Arab) akan berbeda,” ujar Al-Ramadhan  

Delegasi dari Saudi Space Commission (SSC) yang bertugas melakukan penelitian untuk proyek strategi nasional Kerajaan Arab Saudi (KSA) hadir dalam acara tersebut. 

Komisi itu didirikan sejak akhir 2018. Komisi berperan mengawasi dan mengatur sektor luar angkasa di Arab Saudi, bekerja dengan organisasi mitra, seperti Kota Raja Abdulaziz untuk Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Pertahanan, perguruan tinggi, Komisi Komunikasi dan Teknologi Informasi dan Otoritas Umum untuk Penerbangan Sipil. Tujuannya, membuat sektor-sektor tersebut menguntungkan, berkontribusi pada perekonomian, dan menciptakan lapangan kerja.

"Orang Arab memiliki banyak potensi dalam eksplorasi ruang angkasa, terutama karena sebagian besar populasi kita, sekitar 60-70 persen, masih sangat muda," kata Al-Ramadhan. 

Strategi nasional SSC meliputi pengamatan, navigasi dan sistem satelit komunikasi, penerbangan luar angkasa manusia, penelitian dan eksplorasi ilmiah. 

Saat ini, dunia dalam masa transisi energi. Negara-negara bergerak menuju energi terbarukan, seperti hidrogen dan tenaga surya, membeli mobil listrik. Saudi tengah bergerak ke arah sana secara perlahan-lahan dari minyak. 

“Dengan mendiversifikasi ekonomi kita, itu pasti akan membuat perbedaan besar dalam hal beralih dari ketergantungan pada pendapatan minyak,” kata Al-Ramadhan. 

Menurut Al-Ramadhan, tantangan paling signifikan yang dihadapi negara mana pun yang memulai eksplorasi ruang angkasa adalah masalah keuangan. 

Karena itu, kemampuan atau sumber daya satu negara saja tidak akan cukup. Inisiatif baru akan menjadi solusi paling efisien untuk kekurangan dana.

“Tujuan utamanya bukan hanya mengirim astronot ke luar angkasa, tetapi untuk meningkatkan kemampuan ilmiah dan teknologi generasi muda kita, yang akan memiliki misi untuk melangkah lebih jauh,” kata dia.

Dia meyakini teknologi ruang angkasa dapat membantu menemukan cara mengurangi perubahan iklim, seperti, meningkatkan kualitas lingkungan dan udara.

Menurut Kepala Petugas Inovasi di Badan Antariksa UEA, Sheikha Al-Maskari, langkah membentuk kelompok ruang angkasa Arab adalah lompatan besar. 

“Kami berharap dapat mengatur dan memberi energi pada sektor ruang angkasa regional. Kami juga berharap untuk berbagi pengetahuan dan keahlian untuk lebih berkontribusi pada upaya berkelanjutan manusia memahami alam semesta,” ujar dia. 

Direktur Jenderal Pusat Kerajaan untuk Penginderaan Jauh di Maroko, Edriss Al-Haddani, mengatakan Maroko mulai berinvestasi di luar angkasa pada awal 1980an. 

Salah satu langkah strateginya adalah menggabungkan semua program luar angkasa ke satu agenda nasional. 

“Ini akan menjadi titik awal yang baik bagi semua badan antariksa Arab untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan mereka,” kata dia. 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA