Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Saturday, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 December 2018

Idlib Bergejolak, Pemberontak Suriah Tuding Rezim Berulah

Ahad 18 Nov 2018 15:41 WIB

Rep: Marniati/ Red: Nashih Nashrullah

Kondisi pusat kota Idlib, Suriah

Kondisi pusat kota Idlib, Suriah

Foto: The Guardian
Tetapi di satu sisi, Pemerintah Damaskus mengklaim pemberontak langgar kesepakatan.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS— Pemberontak Suriah mengklaim tentara Suriah dan sekutu mereka mengintensifkan serangan terhadap zona demiliterisasi di Idlib  

Menurut pemberontak, seperti dilansir Reuters, Ahad (18/11), tentara telah meningkatkan serangannya dengan ratusan serangan mortir dan roket di sejumlah desa dan kota yang dikuasai pemberontak di Hama utara, Idlib selatan, dan Latakia. 

Wilayah itu merupakan zona demiliterisasi yang disepakati September lalu antara Rusia dan Turki. Rezim telah menargetkan semua front di zona demiliterisasi. 

“Kami telah menanggapi dengan menyerang pos-pos militer mereka yang telah menyerang desa-desa dan kota-kota padat penduduk," kata Kapten Naji Abu Huthaifa, juru bicara Front Pembebasan Nasional, sebuah aliansi pemberontak yang didukung Turki, pada Sabtu (18/11).    

Rusia dan Turki mencapai kesepakatan di Sochi September lalu untuk menegakkan zona demiliterisasi di Idlib yang merupakan benteng terakhir pemberontak  Presiden Bashar al-Assad.

Provinsi Idlib juga merupakan rumah bagi sekitar 3 juta orang, lebih dari separuh di antaranya telah mengungsi selama perang.

Tentara Suriah dan milisi sekutu memberikan tekanan untuk merebut kembali daerah Idlib. Pemerintah berhasil merebut kendali Suriah selatan dan mengakhiri pemberontakan di sekitar ibu kota.

Media pemerintah Suriah, mengutip sumber-sumber militer, menyalahkan pemberontak atas serangan itu. Suriah menuduh pemberontak mencoba menghancurkan kesepakatan Rusia-Turki.

Berdasarkan kesepakatan itu, Turki berjanji mengusir pemberontak aliansi al-Qaeda dari zona itu. Tetapi militer Rusia semakin mempertanyakan kemampuan Ankara untuk menerapkannya.

Menurut sumber intelijen, kelompok jihadis utama, Tahrir al-Syam, sejauh ini belum menarik senjata berat. 

Pemberontak mengatakan serangan bunuh diri oleh kelompok militan Ansar al-Islam di sebuah pos pemeriksaan militer pada Jumat telah menewaskan sedikitnya 23 pasukan militer.

Namun meski terjadi gejolak, angkatan udara Rusia dan Suriah sejauh ini belum melanjutkan pemboman udara sejak kesepakatan itu.

Serangan itu juga memaksa ratusan keluarga untuk melarikan diri lebih jauh ke utara dekat perbatasan Turki.

 

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES