Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Perang Besar di Hudaidah, Pemimpin Houthi Serukan Perlawanan

Kamis 08 Nov 2018 04:08 WIB

Rep: Sri Handayani/ Red: Teguh Firmansyah

Gerilyawan Houthi di Yaman.

Gerilyawan Houthi di Yaman.

Foto: AP/Hani Mohammed
Houthi mengabaikan ajakan berunding AS.

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Pertempuran di Yaman memasuki babak menentukan.  Pemimpin Yaman Houthi Abdulmalik al-Houthi, pada Rabu, mendesak para pendukungnya untuk melakukan mobilisasi umum.

Hal ini bertujuan melawan serangan besar yang diluncurkan koalisi pimpinan Saudi di kota pelabuhan Laut Merah Yaman, Hudaidah.

"Saya mengarahkan panggilan ke semua orang untuk menuju front mempertahankan kota pelabuhan," kata al-Houthi dalam pidato televisi yang disiarkan oleh saluran TV satelit Al Masirah yang dikelola kelompoknya.

Menurut Houthi, ini bukan pertempuran kecil. Baginya ini merupakan perang besar yang membentang 2.000 kilometer di sepanjang Pantai Laut Merah.

Ia mengabaikan ajakan AS bulan lalu untuk segera memulai negosiasi damai Yaman yang didukung PBB selama satu bulan. Ia justru menyiapkan eskalasi militer besar-besaran dalam waktu sebulan.

"Dan bahwa AS menyerukan pembukaan kembali perundingan perdamaian (Yaman) adalah lampu hijau kosong untuk aksi militer," ujar dia.

Baca juga, Presiden Yaman Ajak Seluruh Warga Perangi Houthi.

Selama pidato al-Houthi, Al Masirah TV menyampaikan peringatan tertulis bahwa pasukan rudal Houti telah menembakkan rudal balistik jarak pendek di sebuah pertemuan koalisi penjajah di pantai barat Hudaidah.

Hingga saat ini belum ada komentar dari pihak pemerintah tentang serangan pemberontak. Sebelumnya, pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional didukung oleh serangan udara koalisi yang dipimpin Saudi merebut kembali lebih banyak jalan menuju kota pelabuhan yang dikuasai Houthi dan semakin mengepung pemberontak Houthi.

Eskalasi dimulai pekan lalu, hanya sehari setelah Utusan Khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths menyambut panggilan oleh AS dan Inggris pada 30 Oktober untuk segera dimulainya kembali proses politik Yaman.

"Kami tetap berkomitmen untuk membawa partai-partai Yaman ke meja perundingan dalam waktu satu bulan," kata Griffiths dalam sebuah pernyataan, menekankan bahwa "tidak akan ada solusi militer untuk konflik Yaman."

Koalisi pimpinan-Saudi telah mengumpulkan ribuan personel pasukan ke tepi selatan Hudaiah menyusul gagalnya pembicaraan Jenewa pada 8 September lalu. Dua pembicaraan damai sebelumnya di Swiss dan Kuwait pada 2016 yang ditengahi oleh PBB juga runtuh.

Hudaidah merupakan daerah strategis. Wilayah ini merupakan kota pelabuhan, titik masuk utama sekitar 70 persen impor dan bantuan ke kota-kota penduduk di utara negara itu di bawah kendali Houthi.

Perang Yaman sejauh ini telah menewaskan lebih dari 10 ribu orang dan menelantarkan tiga juta orang lainnya.

Arab Saudi memimpin koalisi militer Arab yang melakukan intervensi di Yaman pada 2015 untuk mendukung pemerintah Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi setelah pemberontak Houthi yang bersekutu Iran memaksanya mengasingkan diri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES