Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Kebaikan dan Kemakmuran Suriah di Mata Pelajar Indonesia

Jumat 02 Nov 2018 09:05 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Mufti Agung Damaskus Suriah Syekh Adnan al-Afyouni (tengah) memimpin doa dalam Seminar Internasional 'Jangan Suriahkan Indonesia' di Jakarta, Kamis (1/11)

Mufti Agung Damaskus Suriah Syekh Adnan al-Afyouni (tengah) memimpin doa dalam Seminar Internasional 'Jangan Suriahkan Indonesia' di Jakarta, Kamis (1/11)

Foto: Nashih Nashrullah/ Republika
Penduduk Suriah dikenal ramah terhadap orang asing sebelum krisis 2011.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi Suriah sangat berbeda antara sebelum dan sesudah krisis ini mencuat pada 2011 lalu. Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah Ahsin Mahrus menuturkan bagaimana suasana damai, tenteram, kesejahteraan, dan kebaikan masyarakat Suriah yang tiada duanya. 

“Saya menyaksikan dan merasakan sendiri betapa indah Suriah dan penduduknya,” kata dia dalam Seminar Internasional bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia”, di Jakarta, Kamis (1/11) malam.  

Ahsin menuturkan satu per satu kebaikan suasana menyenangkan Suriah dan bagaimana keramahtamahan penduduknya sebelam krisis yang memporak-porandakan negeri ini muncul. 

Dia menyebutkan, warga Suriah paling menyukai orang asing termasuk mahasiswa Indonesia yang berbahasa Arab dengan bersusah payah padahal mereka adalah ‘ajam (non-Arab). 

“Saking sukanya mereka bahkan tiap bertemu mahasiswa dan berbicara Arab, secara spontan mereka akan berbaik hati memberi uang sekadarnya,” kata dia sambil berkelakar. 

Kebaikan penduduk Suriah, kata dia, juga dirasakan mahasiswa yang tengah kehabisan uang bulanan. Biasanya, mahasiswa golongan ini, akan berada di tiang-tiang Masjid Umawi, Damaskus, untuk berdoa diberikan rezeki Allah SWT.

“Syahdan, ini riil, tanpa meminta-minta dengan suka rela jamaah masjid akan memberikan sedekah bagi para ashhab al-‘imad (sebutan mahasiswa untuk mahasiwa Indonesia di Suriah yang tengah bokek),” tutur dia sembari tertawa. 

Sisi kemuliaan bangsa Suriah lain, ungkap Ahsin, yang dia sarakan adalah pendidikan gratis dan keterbukaan ulama Suriah untuk bertalaqi atau belajar langsung secara informal. 

Lagi-lagi, kata dia, tak hanya terbuka memberikan ilmu para ulama itu malah seringkali memberikan uang saku kepada para pelajar Indonesia untuk sekadar jajan. “Kita merasakan itu bahkan kebaikan itu adalah secuil saja dari deretan kemurahan hati Suriah dan warganya terhadap sesama Muslim,” tutur dia.

Akan tetapi sayangnya, ucap Ahsin, pemandangan seperti ini kini sirna. Masyarakat sekarang berbalik arah 180 derajat dan saling curiga-mencurigai satu sama lain. 

Dampak mengerikan krisis tentu yang paling merasakan adalah warga Suriah sendiri, meski tak bisa mungkiri para pelajar asing juga merasakan hal sama. 

Kedatangan mahasiswa asing, termasuk Indonesia sempat tertahan beberapa waktu akibat penyalahgunaan visa pelajar oleh jihadis-jihadis internasional.  

Lalu, apakah krisis Suriah akan dialami bangsa Indonesia? Ahsin tidak berharap demikian dan dia berkeyakinan kekuatan ormas-ormas Islam moderat serta modal persatuan bangsa setidaknya memperkecil kemungkinan itu. 

Namun dia mengingatkan, krisis yang melanda negara-negara Timur Tengah bermula dari eksploitasi emosional keagamaan untuk mengobar fitnah di masyarakat. 

Yang paling harus diwaspadai, menurut dia, adalah ketika muncul sekat-sekat antarmasyarakat. Titik perbedaan terkecil yang selalu diungkit-ungkit. Yang ada di hadapan mereka adalah ‘aku’ dan ‘kamu’, bukan lagi ‘kita’.

Ahsin mengajak, marilah belajar dari konflik Suriah yang penting diwaspadai sejak awal. Sebab bagaimanapun, fitnah itu akan terungkap sejak awal oleh mereka-mereka yang berakal dan akan disadari belakangan keberadaannya oleh mereka orang-orang bodoh.

“Sungguh fitnah itu tengah tidur dan terlaknatlah mereka yang membangungkannya,” kata dia mengutip sebuah sabda Rasulullah SAW.

Sebagai informasi, hadir dalam seminar yang diinisiasi Ikatan Alumni Syam (Alsyami) ini, Duta Besar untuk Indonesia Ziyad Zahruddin, Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Hariyanto, dan Mufti Agung Damaskus Syekh Adnan al-Afyouni.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES