Minggu, 12 Safar 1440 / 21 Oktober 2018

Minggu, 12 Safar 1440 / 21 Oktober 2018

Erdogan: Turki tak akan Diam, Khashoggi Bukan Kasus Biasa

Kamis 11 Okt 2018 15:44 WIB

Rep: Marniati/Lintar/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam Majelis Umum PBB, Selasa (25/9).

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam Majelis Umum PBB, Selasa (25/9).

Foto: AP Photo/Richard Drew
Erdogan mempertanyakan lenyapnya kamera CCTV di Konsulat Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Tayyip Erdogan menegaskan, Turki tidak akan berdiam diri atas hilangnya jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi. Turki sedang menyelidiki semua aspek dari kasus tersebut.

Khashoggi memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober lalu untuk mengurus dokumen pernikahannya. Para pejabat Saudi mengatakan, Khashoggi telah meninggalkan gedung konsulat tak lama setelah kedatangannya. 

Namun, para pejabat Turki, dan tunangan Khashoggi yang menunggu di luar, mengatakan Khashoggi tidak pernah keluar dari gedung tersebut. 

Baca juga, Asosiasi Media Turki-Arab Yakin Khashoggi Dibunuh.

Menurut Erdogan, Turki khawatir akan kasus hilangnya Khashoggi. "Kami sedang menyelidiki semua aspek. Tidak mungkin bagi kami untuk tetap diam mengenai kejadian seperti itu, karena itu bukan kejadian biasa," katanya seperti dikutip surat kabar Hurriyet Daily.

photo

Khashoggi

Dia juga mempertanyakan pernyataan otoritas Saudi yang menyebut konsulat tidak memiliki rekaman Khashoggi meninggalkan gedung itu. Menurut pihak Saudi, kamera keamanan hanya menyediakan rekaman langsung dan tidak merekam gambar.

"Apakah mungkin tidak akan ada sistem kamera di konsulat Arab Saudi, di mana peristiwa itu terjadi?" ujar Erdogan.

Hilangnya Khashoggi kemungkinan akan semakin memperdalam perpecahan antara Turki dan Arab Saudi. Hubungan kedua negara telah tegang setelah Turki mengirim pasukan ke negara Qatar tahun lalu setelah para tetangga Teluk, termasuk Arab Saudi, memberlakukan embargo terhadap Doha.

Erdogan, juga mendukung pemerintahan di Mesir yang dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin, yang mana Arab Saudi telah menetapkan gerakan itu sebagai teroris.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA