Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Rabu, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Nadia Murad, dari Budak Seks ISIS Hingga Peraih Nobel

Ahad 07 Okt 2018 18:37 WIB

Rep: Marniati/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang perempuan yang menjadi budak seks ISIS, Nadia Murad

Seorang perempuan yang menjadi budak seks ISIS, Nadia Murad

Foto: Independent
Nadia mencoba melawan militan yang menahannya.

REPUBLIKA.CO.ID, OSLO --  Peraih penghargaan Nobel Perdamaian 2018, Nadia Murad menceritakan pengalamannya saat masih menjadi budak seks Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Kisah itu terdapat di otobiografinya yang berjudul, "The Last Girl: My Story of Captivity dan My Fight Against the Islamic State."

Nadia Murad diculik bersama perempuan Yazidi lainnya pada Agustus 2014 saat rumah mereka Kocho di Sinjar, Irak utara, diserang oleh ISIS. Ia ditangkap bersama saudara perempuannya. Kekejaman ISIS membuat Nadia harus rela kehilangan enam saudara laki-laki dan ibunya.

Seperti dilansir the Guardian, Ahad (7/10), Nadia menuturkan, perdagangan seks dimulai pada malam hari. Para gadis  dapat mendengar keributan di lantai bawah tempat para militan mendaftar. Mereka menggunakan bahasa Arab atau Turkmen.

Baca juga, ISIS Kembali Usik Keamanan Irak.

Saat pria pertama memasuki ruangan, semua gadis mulai berteriak. Para militan ISIS itu terlihat mondar-mandir di sekeliling ruangan. Mereka menatap gadis-gadis itu. Militan tidak menghiraukan tangisan ketakutan para gadis itu.

"Mereka tertarik pada gadis yang paling cantik terlebih dahulu dan bertanya, “Berapa usiamu?” Dan memeriksa rambut dan mulut mereka. "Mereka adalah perawan, kan?"," tanya para militan kepada seorang penjaga.

Setelah menentukan pilihannya, para militan menyentuh gadis itu di bagian tubuh yang mereka inginkan. Militan memperlakukan gadis itu seperi binatang.  "Tenang! Diamlah!" Militan terus meneriaki kami. Namun itu justru semakin membuat para gadis berteriak lebih kencang.

Nadia mengatakan ia  akan melawan saat seorang militan mencoba membawanya
"Aku melolong dan menjerit, menampar tangan militan yang mencoba menggerayangi saya," kata Nadia.

Baca juga, Hukuman Mati untuk Perempuan-Perempuan ISIS.

Gadis-gadis lain juga melakukan hal yang sama. Mereka akan berupaya keras untuk menghindari pelecehan itu. Seringkali para gadis itu membenamkan tubuh mereka di antara gadis lainnya untuk meminta perlindungan.

Satu kali, Nadia dihampiri oleh petinggi militan ISIS bernama Salwan. Salwan datang bersama gadis Yazidi lainnya dari Hardan,  "Berdiri," kata Salwan.  Nadia menolak untuk berdiri. Salwan lalu menendangnya. "Kamu! Gadis dengan jaket merah muda! Saya bilang berdiri! ”," teriak Salwan.

Menurut Nadia, Salwan berbadan besar. Ia tidak  terlihat seperti laki-laki, tetapi terlihat seperti monster.

Di lantai bawah, seorang militan mencatat transaksi di sebuah buku. Ia menuliskan nama gadis dan nama militan yang membawa gadis itu. Nadia khawatir bahwa ia akan dibawa oleh Salwan.

Nadia tiba-tiba berlutut ke salah seorang pria yang berperawakan sedikit kurus ditengah kerumunan itu.  Ia mulai memohon. "Tolong, bawa aku bersamamu. Lakukan apa pun yang kamu mau, aku tidak bisa pergi dengan raksasa ini.” kata Nadia kepada pria itu.


BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA