Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Erdogan: Pemerintah Bersama Rakyat Siap Hadapi Dolar

Rabu 15 August 2018 14:25 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Teguh Firmansyah

Recep Tayyip Erdogan

Recep Tayyip Erdogan

Foto: AP/Burhan Ozbilici
Gedung Putih menilai masalah ekonomi Turki bukan berasal dari AS.

REPUBLIKA.CO.ID,ISTANBUL -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan, akan memboikot barang-barang elektronik asal Amerika Serikat (AS). Boikot dilakukan sebagai buntut dari perang ekonomi menyusul penggandaan tarif bea masuk akan baja dan alumunium asal Turki.

Keputusan untuk memblokade barang asal AS juga dilakukan menyusul turunnya nilai mata uang Turki terhadap dolar AS akibat kebijakan tersebut. Lira hingga telah kehilangan lebih dari 40 persen nilai dan menyentuh angka terendah dalam sejarah sebesar 7,24 perdolar.

Pelemahan nilai mata uang tersebut telah menggangu pasar global. Penurunan sebesar 18 persen pada Jumat (10/8) lalu telah memukul saham Eropa dan AS menyusul kecemasan investor tentang eksposur bank ke Turki. Namun, nilai Lira sempat menguat sembilan persen terhadap dolar pada Selasa (14/8) kemarin waktu setempat.

"Pemerintah bersama rakyat siap menghadapi dolar, inflasi, harga forex dan suku bunga. Kami akan melindungi kebebasan ekonomi Turki melalui kebersamaan," kata Presiden Erdogan, kemarin.

Seperti diketahui, hubungan AS dan Turki diketahui tengah berada dalam kondisi yang kurang harmonis. Turki Belakangan, tensi kedua negara kembali meningkat menyusul penahanan seorang pastur asal AS Andrew Brunson.

AS diketahui juga telah menjatuhkan sanksi terhadap dua orang pembantu presiden Turki yakni Menteri Kehakiman Abdulhamit Gul dan Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu. Keduanya dijatuhi hukuman menyusul dugaan mendalangi sebuah organisasi yang bertanggung jawab atas penangkapan pastur asal AS Andrew Craig Brunson.

Tensi terus meningkat setelah AS menggandakan tarif ekspor aluminium dan baja asal Turki masing-masing sebesar 20 persen dan 50 persen. Kendati, Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Heather Nauert mengatakan, masalah ekonomi Turki tidak dimulai oleh sanksi Paman Sam.

Baca juga, Trump Ancam Sanksi Berat Turki.

"Ekonom pasti akan mengatakan kepada Anda bahwa apa yang terjadi di Turki, jauh melampaui kebijakan baru AS dan penerapan berbagai kebijakan lainnya," kata Nauert dalam konferensi pers.

Terkait kasus Brunson, Gedung Putih mengatakan jika Presiden AS Donald Trump frustasi lantaran Istanbul belum juga membebaskan pastur tersebut. Gedung Putih melanjutkan, AS berencana menerapkan tekanan ekonomi lainnya kepada Turki agar mau melepaskan Brunson.

"Presiden memiliki banyak frustrasi pada kenyataan bahwa Pastor Brunson belum dibebaskan serta fakta jika WN AS lainnya dan karyawan yang memiliki fasilitas diplomatik juga belum dibebaskan,” kata Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES