Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Rabu, 5 Rabiul Akhir 1440 / 12 Desember 2018

Perempuan Saudi Siap Sambut Kebebasan

Ahad 24 Jun 2018 00:01 WIB

Red: Ani Nursalikah

Seorang perempuan Saudi yang mengendarai mobil

Seorang perempuan Saudi yang mengendarai mobil

Foto: Reuters
Perempuan Saudi diizinkan mengemudi mulai 24 Juni.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Wanita Arab Saudi akan dapat berkendara mulai Ahad (24/6). Langkah itu, yang diperintahkan pada September oleh Raja Salman, adalah bagian dari reformasi besar-besaran, yang didorong Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk membuka masyarakatnya yang tertutup.

"Kami siap dan itu akan mengubah hidup kami sepenuhnya," kata Samira al-Ghamdi, psikolog berusia 47 tahun dari Jeddah, salah satu wanita pertama Saudi yang surat izin mengemudinya segera dikeluarkan.

Pencabutan larangan itu, yang bertahun-tahun mengundang kecaman internasional dan perbandingan terhadap kekuasaan Taliban di Afghanistan, disambut sekutu Barat sebagai bukti kecenderungan progresif baru di Arab Saudi. Tapi, hal itu telah disertai dengan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat, termasuk terhadap beberapa pegiat yang sebelumnya berkampanye menentang larangan tersebut.

Wanita Saudi dengan surat izin mengemudi luar negeri baru mulai mengubah milik mereka awal bulan ini, sehingga jumlah pengemudi wanita baru diperkirakan tetap dalam jumlah rendah pada awalnya. Hal tersebut akan memakan waktu sebelum orang lain yang belajar mengemudi di sekolah negara sudah siap untuk mengemudi.

Beberapa wanita masih menghadapi pertentangan dari kerabat mereka yang konservatif. Banyak yang terbiasa menggunakan sopir pribadi mengatakan mereka enggan mengemudi di jalanan sibuk negara kerajaan Muslim itu.

"Saya tidak akan menyetir. Saya suka menjadi putri dengan seseorang membuka pintu mobil untukku dan mengantar saya ke mana-mana," kata Fayza al-Shammary, seorang pramuniaga berusia 22 tahun.

Ada kekhawatiran pengemudi perempuan akan menghadapi pelecehan. Hal itu mendesak undang-undang baru bulan lalu dengan penjara dan denda besar untuk pelecehan seksual. Kementerian Dalam Negeri berencana menyewa perempuan polisi lalu lintas untuk pertama kali, tapi tidak jelas kapan mereka akan dikerahkan.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES