Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Sunday, 13 Muharram 1440 / 23 September 2018

Tujuh Wartawan Tewas dalam Sebuah Ledakan Bom di Afghanistan

Senin 30 April 2018 23:02 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Andri Saubani

Polisi berlarian di lokasi ledakan kedua di Kabul, Afghanistan, Senin (30/4)

Polisi berlarian di lokasi ledakan kedua di Kabul, Afghanistan, Senin (30/4)

Foto: AP Photo/Massoud Hossaini
Salah satu fotografer AFP di antara korban tewas.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Dua ledakan di ibu kota Afghanistan, Kabul, menewaskan 25 orang pada hari Senin (30/4). Di antara korban merupakan para wartawan yang tiba untuk melaporkan ledakan pertama dan yang tampaknya ditargetkan oleh seorang pembom bunuh diri dalam serangan kedua.

Komite Keamanan Jurnalis Afghanistan mengatakan tujuh wartawan telah tewas dan kantor berita Prancis, Agence France-Presse menegaskan, bahwa fotografer utamanya di Afghanistan, Shah Marai, termasuk di antara yang tewas, seperti dilaporkan Reuters, Senin (30/4).

Najib Danish, juru bicara kementerian dalam negeri, mengatakan pembom bunuh diri itu muncul sebagai wartawan dan meledakkan dirinya di mana para wartawan dan petugas kesehatan darurat berdiri. Serangan itu terjadi seoekan setelah 60 orang tewas ketika mereka menunggu di pusat pendaftaran pemilih di barat Kabul, menggarisbawahi ketidakamanan yang berlanjut di ibu kota meskipun adanya janji resmi untuk memperketat pertahanan.

Hashmat Stanakzai, seorang pejabat senior polisi Kabul, mengatakan 25 orang tewas dan 49 luka berat. Ia menyebutkan, belum ada klaim yang menyatakan bertanggung jawab atas pengeboman ini. Wahidullah Majroh, juru bicara kementerian kesehatan, mengatakan sedikitnya enam wartawan termasuk yang terluka.

Bom pertama meledak di daerah Shashdarak dekat dengan gedung dinas intelijen NDS. Diikuti oleh satu di luar kementerian pembangunan kota dan perumahan, ketika orang-orang memasuki kantor pemerintah.

Militan Taliban, yang berjuang untuk mengembalikan versi hukum Islam mereka yang ketat ke Afghanistan, mengumumkan serangan musim semi yang biasa mereka lakukan pekan lalu dan telah terjadi pertempuran sengit di beberapa daerah di Afghanistan sejak itu. Ratusan orang telah tewas dan terluka dalam serangkaian serangan tingkat tinggi di Kabul sejak awal tahun, meskipun tawaran Presiden Ashraf Ghani pada bulan Februari untuk pembicaraan damai tanpa prasyarat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES