Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

Selasa, 5 Syawwal 1439 / 19 Juni 2018

AS Siap Turun di Perang Ghouta Timur

Selasa 13 Maret 2018 15:34 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red:

Dua orang anak memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah, Ahad (25/2).

Dua orang anak memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Desa Shifunieh, Ghouta Timur, Suriah, Ahad (25/2).

Foto: Mohammed Badra/EPA-EFE
AS ingatkan rezim Suriah agar mematuhi kesepakatan gencatan senjata.

REPUBLIKA.CO.ID,    NEW YORK -- Duta Besar Amerika Serikat (S) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Nikki Haley menegaskan negaranya akan segera bertindak terkait kondisi di Ghouta Timur, Suriah. Dia menegaskan, sikap ini akan dilakukan jika Dewan Keamanan PBB gagal mengambil tindakan terkait situasi di kawasan.

"Ketika masyarakat internasional secara konsisten gagal bertindak, maka Amerika akan mengambil tindakan sepihak," kata Haley, Selasa (13/3).

AS sebelumnya meminta DK PBB untuk menetapkan 30 hari gencatan senjata di Ghouta Timur. Rusia lantas menyepakati gencatan senjata dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 14.00 setiap hari untuk memberikan akses kepada warga sipil meninggalkan wilayah tersebut.

Haley mengatakan, AS sebenarnya enggan untuk ambil bagian dalam konflik tersebut. Kendati, dia melanjutkan, Paman Sam siap mengambil langkah jika serangan yang dilakukan tentara Suriah terus berlanjut.

Tindakan tersebut mengacu pada serangan yang dilakukan AS terhadap pangkalan udara militer Suriah tahun lalu. Serangan dilakukan menyusul dugaan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah.

Sementara, AS mengaku mendapat laporan jika militer tetap melakukan serangan ditengah waktu gencatan senjata yang berlangsung di Ghouta Timur. Departemen AS mengatakan, jika laporan tersebut benar terbukti, maka rezim Suriah dengan sengaja memperluas konflik kawasan.

"Kami mendesak semua pihak untuk tidak melakukan tindakan yang akan membahayakan gencatan senjata dan membuat kerja sama di masa depan menjadi lebih sulit," kata Departemen AS.

Sumber : Reuters
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES