Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Rabu, 6 Syawwal 1439 / 20 Juni 2018

Memburuknya Kondisi Ghouta Timur

Rabu 21 Februari 2018 13:42 WIB

Rep: Marniati/ Red: Ani Nursalikah

Petugas Pertahanan Sipil Suriah memadamkan api di sebuah toko yang terbakar karena serangan udara pasukan Suriah dan gerilyawan di Ghouta, pinggiran Damaskus, Selasa (20/2).

Petugas Pertahanan Sipil Suriah memadamkan api di sebuah toko yang terbakar karena serangan udara pasukan Suriah dan gerilyawan di Ghouta, pinggiran Damaskus, Selasa (20/2).

Foto: Syrian Civil Defense White Helmets via AP
Kondisi di Ghouta timur menjadi peringatan akan datangnya bencana kemanusiaan.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Hampir 200 warga sipil terbunuh dalam belasan serangan udara dan tembakan pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad di Ghouta timur dalam dua hari. Serangan ini telah menyebabkan peringatan akan bencana kemanusiaan yang dapat mengguncang kekejaman masa lalu di perang yang telah berlangsung selama tujuh tahun.

Dilansir di The Guardian, Rabu (21/2), lonjakan pembunuhan di wilayah yang terkepung terjadi di tengah laporan tentang serangan rezim yang akan datang ke daerah di luar Damaskus, yang merupakan rumah bagi 400 ribu warga sipil. Menurut hitungan lokal lebih dari 700 orang terbunuh dalam tiga bulan. Ini tidak termasuk kematian pada pekan lalu.

Amnesty International mengatakan kejahatan perang yang mencolok dilakukan di Ghouta timur dengan skala epik. "Orang-orang tidak hanya mengalami pengepungan yang kejam selama enam tahun terakhir, mereka sekarang terjebak dalam rentetan serangan sehari-hari yang dengan sengaja membunuh dan melukai mereka, dan itu merupakan kejahatan perang yang mencolok," kata peneliti Suriah Diana Semaan.

Tujuh rumah sakit juga telah dibom sejak Senin pagi di Ghouta timur. Dua rumah sakit memberhentikan operasinya.

"Kami berdiri sebelum pembantaian abad ke-21. Jika pembantaian 1990-an adalah Srebrenica, dan pembantaian 1980-an adalah Halabja dan Sabra dan Shatila, maka Ghouta timur adalah pembantai abad ini," kata seorang dokter di Ghouta timur.

Ia mengatakan tidak ada terorisme yang lebih besar daripada membunuh warga sipil dengan segala jenis senjata. Menurutnya, apa yang terjadi saat ini bukanlah perang melainkan pembantaian.

Sebuah organisasi pencarian dan penyelamatan warga sipil Suriah mengatakan 61 orang tewas pada Selasa (20/1). Sementara Observatorium untuk Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan 194 orang telah meninggal dalam 48 jam terakhir.

Menurut Observatorium, kelompok pemberontak menanggapi dengan gelombang pengeboman artileri yang menargetkan Damaskus, menewaskan 12 orang dan melukai 50 lainnya di wilayah yang dikuasai pemerintah. Jumlah korban tewas sulit didapat karena operasi penyelamatan yang sedang berlangsung dan beberapa warga langsung memakamkan keluarga mereka tanpa membawa ke rumah sakit setempat.

Pekerja bantuan mengatakan kekerasan terakhir di Ghouta timur, di mana 1.300 orang meninggal terjadi pada 2013 setelah rezim Assad mengerahkan gas sarin, termasuk penggunaan bom laras . Penggunaan senjata tersebut dipandang sebagai kejahatan perang oleh pengawas hak asasi manusia. Rezim tersebut juga menggunakan jet tempur dan pengeboman artileri.

"Situasi di Ghouta timur mirip dengan hari penghakiman," kata Wakil Direktur White Helmets Mounir Mustafa.

White Helmets merupakan kelompok sukarelawan yang menyelamatkan orang-orang dari balik reruntuhan bangunan yang dibom. Salah satu relawannya, Firas Juma, ikut menjadi korban tewas pada Senin saat membantu penyelamatan setelah serangan bom.

Organisasi medis mengatakan setidaknya lima klinik dan rumah sakit, termasuk pusat persalinan, dibom pada Senin. Seorang ahli anestesi terbunuh dalam serangan tersebut. Dua fasilitas lainnya diserang pada Selasa.

"Pengeboman itu histeris. Ini adalah bencana kemanusiaan dalam setiap arti kata. Pembunuhan massal orang-orang yang tidak bersalah," kata seorang pejabat keamanan di Union of Medical and Relief Organizations (UOSSM) yang mengelola puluhan rumah sakit di daerah-daerah yang dikendalikan oposisi di Suriah Ahmed al-Dbis.

Direktur Komite Penyelamatan Internasional untuk Timur Tengah Mark Schnellbaecher mengaku khawatir dengan kondisi yang dialami Ghouta Timur saat ini. "Pengeboman itu tanpa henti, dan anak-anak sekarat setiap saat. Keluarga-keluarga ini tidak punya tempat untuk lari," ujar seorang pejabat Save the Children, Sonia Khush.

Di tempat lain di Suriah pada Selasa, pejuang pro-pemerintah mulai memasuki daerah kantong Kurdi di mana tentara Turki melakukan serangan selama sebulan. Perkembangan tersebut terjadi sehari setelah Turki mengatakan akan menyerang balik pasukan Suriah jika tujuan mereka adalah untuk melindungi militan Kurdi.

Media pemerintah Suriah mengatakan tentara Turki menembaki milisi pro-pemerintah. Kondisi ini akan semakin memperparah kondisi perang di Suriah.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Senegal Menang 2-1 Atas Polandia

Rabu , 20 Juni 2018, 00:22 WIB