Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Minggu, 9 Zulqaidah 1439 / 22 Juli 2018

Perundingan Damai Yaman akan Digelar di Oman, Houthi Hadir

Selasa 13 Februari 2018 19:58 WIB

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Gita Amanda

Gerilyawan Houthi di Yaman.

Gerilyawan Houthi di Yaman.

Foto: AP/Hani Mohammed
erundingan damai akan dihadiri oleh kelompok bersenjata Houthi dan Partai General.

REPUBLIKA.CO.ID, MUSKAT -- Babak baru perundingan damai mengenai perang sipil Yaman terus berlanjut, dengan Oman akan menjadi tuan rumah perundingan damai tersebut. Perundingan damai itu akan dihadiri oleh kelompok bersenjata Houthi dan Partai General Peoples Congress(GPC).

"Ya, kami terbuka untuk negosiasi dengan semua pihak dalam konflik," kata Wakil Kepala Departemen Hubungan Eksternal dan sekaligus anggota biro politik Houthi, Muhammadal-Bukhaithi kepada Middle East Monitor.

Tidak ada pihak lain dalam konflik yang telah terjadi selama tiga tahun itu yang disebutkan akan menjadi bagian dari perundingan damai yang akan datang. Menurut laporan kantor berita Kuna, perundingan damai itu akan berlangsung segera setelah Utusan Perdamaian Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang baru untuk Yaman direkrut.

Mantan utusan PBB Ismail Ould Cheikh mengatakan peran utusan tersebut adalah untuk memfasilitasi negosiasi antara pihak-pihak yang kemudian akan memutuskan apakah mereka dapat melanjutkan perundingan damai. Sedangkan masa jabatannya akan habis pada bulan ini.

Ould Cheikh menceritakan situasi di Yaman yang dia sebut tragis dan menimbulkan malapetaka. Dia mencatat bahwa hampir satu juta orang Yaman menderita kolera. PBB sebelumnya memuji Oman atas perannya dalam membantu menemukan solusi untuk mengakhiri konflik tersebut.

Dalam sebuah wawancara pada Oktober tahun lalu, Al-Bukhaithi menegaskan bahwa Oman dapat memainkan peran kunci dalam menghentikan perang jika mereka memiliki kemauan untuk memainkan peran netral dan jujur dengan rezim Saudi.

Perang sipil Yaman meletus pada September 2014 ketika orang-orang Houthi mencapai Sanaa, dan memaksa Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi yang diakui secara internasional untuk memindahkan pemerintahannya ke kota Aden selatan.

Pada Maret 2015,Hadi meminta koalisi pimpinan Arab Saudi untuk melakukan intervensi secara militer untuk menghentikan kemajuan Houthi. Pertempuran berdarah itu telah merenggut lebih dari 10 ribu nyawa penduduk Yaman.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES