Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Minggu, 10 Syawwal 1439 / 24 Juni 2018

Iran: Tak Ada Negosiasi Ulang Kesepakatan Nuklir

Ahad 14 Januari 2018 07:23 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Andri Saubani

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

Foto: Reuters/ISNA/Hamid Forootan/Files

REPUBLIKA.CO.ID, TEHRAN -- Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif angkat bicara terkait rencana Donald Trump untuk memperketat sanksi nuklir terhadap negaranya. Dia mengatakan, kebijakan itu merupakan langkah putus asa Amerika Serikat (AS) untuk merusak kesepakatan multilateral.

"Kesepakatan nuklir 2015 tidak dapat dinegosiasikan ulang dan kami tidak menerima perubahan apapun baik sekaran atau di masa depan," tegas Mohammad Javad Zarif seperti dikutip Aljazirah, Ahad (14/1).

Pemerintah Iran menegaskan, tidak akan menerima apa pun perubahan yang dilakukan terhadap kesepakatan nuklir yang dicapai tiga tahun lalu. Kementrian Luar Negeri Iran mengatakan, segala bentuk revisi yang dilakukan dalam perjanjian tersebut melanggar komitmen yang sudah dicapai.

Pada Jumat (12/1), Gedung Putih mengatakan akan mempertahankan kesepakatan nuklir untuk terakhir kalinya. Hal tersebut akan berlanjut jika kesepakatan dapat dicapai antara AS dan Eropa dalam 120 hari ke depan, yang akan memperkuat perjanjian tersebut.

"Ini adalah kesempatan terakhir dan kalau tidak ada kesepakatan antara AS dan Eropa, maka kami akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran," kata Presiden AS Donald Trump.

Secara keseluruhan, ada empat poin kritis yang ingin dikoreksi Donald Trump dalam perjanjian tersebut. Pada poin pertama Trump meminta inspeksi dapat dilakukan langsung di semua tempat yang diminta oleh badan inspeksi internasional.

Kedua, kesepakatan harus mengatur langkah-langkah yang memastikan Iran tidak akan pernah memiliki persenjataan nuklir. Ketiga, tidak ada kebijakan tanggal kedaluwarsa. Keempat, tidak ada perbedaan antara program rudal jarak jauh dan senjata nuklir Iran yang diatur dalam sanksi tersebut.

Trump mengancam, AS akan menarik diri dari kesepakatan jika 'kecacatan' yang ada dalam kesepakatan itu tidak diperbaki. Komisioner Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Federica Mogherini mengatakan, kesepakatan yang ada saat ini masih berjalan dengan maksimal, yakni selalu terawasinya program nuklir Iran.

Sementara, Pemerintah Rusia mengecam kebijakan negatif Trump yang ingin merudah dan memperketat sanksi terhadap Iran. Rusia menegaskan akan menentang Paman Sam jika mereka memutuskan hengkang dari kesepakatan nuklir tersebut.

"Keputusan kemarin menunjukkan bahwa AS hampir menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran," kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA