Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Presiden Korsel Ingin Tekan AS Kembali Bicara dengan Korut

Kamis 11 Apr 2019 18:18 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Presiden AS Donald Trump (kanan) bersama Presiden Korsel Moon Jae-in saat upacara penyambutan di Istana biru di Seoul, Selasa (7/11).

Foto: Kim Hong-ji/Pool Photo via AP
Presiden Korsel berkunjung ke AS untuk membahas denuklirisasi Korut.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in akan bertemu dengan Presiden Amerika serikat (AS) pada Kamis (11/4) waktu setempat di Washington, AS. Keduanya diharapkan untuk membantu membahas proses denuklirisasi dengan Korea Utara (Korut) yang gagal usai pertemuan Trump dengan pemimpin Korut Kim Jong-un di Hanoi, Februari lalu.

Moon akan tiba di Washington pada Rabu malam, dan dijadwalkan bertemu terlebih dulu dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, Penasihat kemanan nasional AS John Bolton, dan Wakil Presiden AS Mike Pence pada Kamis pagi sebelum nantinya bertemu dengan presiden Trump di Gedung Putih pada siang harinya.

Tujuan Moon ke AS adalah untuk menekan AS sehingga menghidupkan kembali pembicaraan secepatnya untuk pertemuan lanjutan dengan Kim, sebab kegagalan mencapai kesepakatan pada pertemuan di Hanoi. Sementara Gedung Putih membenarkan bahwa nantinya Trump dan Moon akan membahas soal Korut, serta hubungan bilateral, meski pejabat resmi AS menolak untuk memberitahukan detail pembicaraan kedua presiden itu.

Moon mengatakan, ia akan menggunakan kesempatan pertemuannya dengan Trump untuk membahas perundingan AS-Korut dan memajukan proses perdamaian serta meningkatkan hubungan dengan Pyongyang. Dia berharap Korut akan merespons secara positif.

Pompeo pun yakin akan ada pertemuan puncak ketiga antara Trump dan Kim, meskipun jadwalnya belum ditentukan. "Saya berharap itu akan terjadi," kata Pompeo. Pompeo mengatakan, saluran diplomatik AS-Korut tetap terbuka sehingga kedua pihak telah melakukan pembicaraan setelah Hanoi tentang bagaimana untuk bergerak maju kembali untuk mencapai kesepakatan.

Kendati demikian, pada sidang Senat, Pompeo menekankan sanksi inti AS ke Korut harus tetap ada hingga denuklirisasi lengkap Korut terlaksana. Ia juga menegaskan kemungkinan beberapa pelonggaran sanksi bisa terjadi.

Moon telah lama mempertaruhkan reputasi politiknya dalam mendorong negosiasi antara AS dan Korut. Hal itu dengan tujuan membujuk Kim untuk menghentikan program senjata nuklir yang kini juga mengancam AS.

Pada Kamis, media pemerintah Korut mengatakan, Kim berbicara pada pertemuan Partai Buruh Korea yang berkuasa bahwa ia akan mendorong maju negaranya dengan upaya untuk membuat ekonomi lebih mandiri. Bulan lalu, seorang pejabat senior Korut memperingatkan bahwa Kim mungkin memikirkan kembali moratorium peluncuran rudal dan uji coba nuklir sejak 2017, jika Washington membuat konsesi, seperti mengurangi sanksi ekonomi.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA