Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Friday, 14 Rajab 1442 / 26 February 2021

Pengusaha Palestina Khawatir dengan Penutupan China

Selasa 18 Feb 2020 22:37 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Penanganan medis virus corona di China (Ilustrasi)

Penanganan medis virus corona di China (Ilustrasi)

Foto: Ist
Dampak ekonomi penutupan China dirasakan oleh Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, HEBRON -- Kota Hebron di Tepi Barat terpaut 4.000 mil dari pusat wabah virus corona di China. Namun, dampak ekonomi yang disebabkan virus tersebut mulai terasa di sana.

Sudah lama pasar Palestina dibanjir barang murah dari China. Pengusaha di Hebron, kota terbesar Palestina dan pusat perekonomian wilayah itu khawatir bila wabah dan karantina yang disebab virus corono terus berlangsung. Hal itu karena artinya mereka harus mengganti pasokan barang ke alternatif yang lebih mahal.

Hal itu tentu membuat mereka harus menetapkan harga yang lebih mahal kepada konsumen. Sementara perekonomian masyarakat Palestina sudah lemah.

Baca Juga

Kekhawatiran pedagang di Palestina itu menunjukkan betapa besarnya dampak wabah virus corona di China, eksportir terbesar dunia. Krisis kesehatan sudah menghantam industri pariwisata dan mengancam rantai pasokan seluruh dunia yang tergantung pada China.

Bukti Hebron yang berada jauh di dalam Tepi Barat yang diduduki Israel juga sangat bergantung pada barang-barang China, menunjukkan berapa terintegrasinya perekonomian global.

Penyakit yang baru-baru ini dinamai COVID-19 itu pertama kali muncul pada Desember tahun lalu di pusat kota Wuhan. Sejak itu virus corona tipe baru telah menyebar ke lebih dari dua puluh negara dan menginfeksi lebih dari 73 ribu orang.

Sudah lebih dari 1.800 orang meninggal dunia karena virus ini. Belum ada laporan COVID-19 sampai ke Israel atau wilayah Palestina. Tapi perdagangan di kawasan itu sudah menerima dampaknya dan dikhawatirkan terus memburuk.  

Pedagang pakaian anak di Hebron, Samer Abu Eisha sudah mengimpor barang-barangnya dari Cina selama lebih dari dua dekade. Ia diizinkan Israel untuk terbang dari Bandara Internasional Ben Gurion ke Provinsi Guangzhou, China setiap dua bulan sekali. Sehingga, ia dapat melakukan pesanan di pabrik-pabrik di sana dan memeriksa hasilnya.  

Namun, sejak wabah virus merebak bulan lalu bisnis Abu Eisha jalan ditempat. Israel dan tetangganya Yordania menghentikan semua penerbangan ke China. Pengiriman melalui kapal laut pun dihentikan dan Abu Eisha mengatakan agennya di China tidak bisa meninggalkan rumahnya karena karantina setempat.

Jika situasi itu terus berlangsung maka Abu Eisha harus mengeksplorasi pilihan lain. Dampak karantina China untuk setiap bisnis berbeda-beda. Ada yang mulai merasakan kesulitan dan ada pula yang bersiap mengganti rantai pasokan dan menaikan harga.

"Ada alternatif di Turki, tapi tidak sama, kualitasnya tidak sama atau pekerjaannya tidak sama atau harganya tidak sama, ini sulit karena semua barang mentah juga berasal dari China, jadi barang-barang mulai lebih mahal," kata Abu Eisha, Selasa (18/2).

Ia memperkirakan akan menaikan harga hingga 30 persen. Kenaikan harga tentu akan menyulitkan pasar lokal. Selama berpuluh-puluh tahun larang-larangan Israel telah menahan pertumbuhan ekonomi di Tepi Barat, membuat banyak warga Palestina mengandalkan impor murah.

"Ekonomi di sini sangat buruk, di Palestina nol, atau kurang dari nol," kata Abu Eisha.

Pedagang Hebron lainnya Bilal Dwaik yang mengimpor pakaian perempuan dari China juga harusnya mengunjungi Negeri Tirai Bambu pada bulan ini. Ia terpaksa membatalkan kunjungannya karena wabah virus corona. Ia mengatakan jika kondisinya terus berlanjut maka dampaknya akan terasa di seluruh kawasan.

"Perekonomian dunia Arab tidak produktif, mereka tidak dapat mencukupi diri sendiri, semuanya tergantung pada impor barang, barang-barang China," kata Dwaik.

Setelah Perjanjian Oslo yang memaksa Israel mengizinkan Otoritas Palestina memiliki kebijakan perdagangan independen. Pada 1990-an, pedagang Palestina berbondong-bondong datang ke China.

Pada 1998 lebih dari 33 juta dolar AS barang China diimpor ke Palestina. Satu dekade kemudian angkanya naik empat kali lipat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Palestina 2018 total impor China ke Palestina mencapai 425 juta dolar AS.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA