Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Palestina Berterima Kasih ke Saudi

Senin 03 Dec 2018 18:10 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Perempuan Palestina membawa barang di tengah reruntuhan gedung di Jalur Gaza.

Perempuan Palestina membawa barang di tengah reruntuhan gedung di Jalur Gaza.

Foto: Reuters
Saudi memberikan bantuan 20 juta dolar AS untuk proyek rekonstruksi di Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Menteri Konstruksi dan Perumahan Palestina Mofeed Al-Hasayneh berterima kasih kepada Arab Saudi atas bantuannya sebesar 20 juta dolar AS untuk proyek-proyek rekonstruksi di Jalur Gaza. Ia pun mengapresiasi bantuan Saudi sebesar 50 juta dolar AS buat Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).

"Atas nama Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Perdana Menteri Rami Hamdallah, saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan saya kepada Kerajaan Arab Saudi serta Raja Salman bin Abdulaziz atas dukungan murah hati," kata Al-Hasayneh dikutip laman Middle East Monitor, Senin (3/12).

Jalur Gaza telah diblokade Israel lebih dari 11 tahun. Blokade menyebabkan Gaza mengalami salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Situasi diperburuk oleh peperangan yang kerap terjadi antara kelompok perlawanan Palestina dan Israel.

Baca juga, Puluhan Kendaraan Jadi Sasaran Vandalisme Ektremis Yahudi.

Selain krisis Gaza, sekitar lima juta pengungsi Palestina juga terancam tak lagi memperoleh layanan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan, dari UNRWA. Sebab UNRWA mengalami krisis pendanaan setelah AS memutuskan menghentikan kontribusinya untuk lembaga tersebut.

Washington diketahui merupakan penyandang dana terbesar untuk UNRWA dengan kontribusi rata-rata mencapai lebih dari 300 juta dolar AS per tahun. Keputusan AS menghentikan pendanannya diduga bermotif politik, yakni agar Palestina bersedia melanjutkan perundingan damai dengan Israel.

Setelah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember tahun lalu, Palestina memutuskan mundur dari perundingan damai yang dimediasi AS. Palestina menganggap tak menjadi mediator yang netral karena terbukti membela kepentingan politik Israel, yakni dengan mengakui Yerusalem sebagai ibu kotanya.

AS disebut telah menyiapkan konsep perdamian baru untuk Israel dan Palestina yang dikenal dengan istilah "Deal of the Century". Namun Palestina dilaporkan tidak akan menerima konsep tersebut. Sebab AS tak lagi mencantumkan isu tentang Yerusalem dan status pengungsi Palestina di dalamnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA