Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 Desember 2018

Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1440 / 15 Desember 2018

Warga Gaza: Semua Menjadi Target Israel

Rabu 14 Nov 2018 11:12 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Teguh Firmansyah

Sebuah apartemen hancur akibat roket yang ditembakkan pasukan Palestina di Kota Ashkelon, Selasa (13/11) waktu setempat. Israel dan Palestina bersepakat untuk melakukan gencatan senjata.

Sebuah apartemen hancur akibat roket yang ditembakkan pasukan Palestina di Kota Ashkelon, Selasa (13/11) waktu setempat. Israel dan Palestina bersepakat untuk melakukan gencatan senjata.

Foto: AP
Blokade Israel telah menghancurkan ekonomi lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Ahmed Abu Saif terdiam melihat tumpukan puing-puing bangunan lima lantai miliknya. Bangunan itu merupakan salah satu dari beberapa bangunan sipil yang diratakan dengan tanah selama 24 jam terakhir di Gaza oleh jet Israel.

"Saya merasa akan melihat gedung saya terbakar habis pada suatu hari karena saya tinggal di Gaza. Semua yang ada di Gaza menjadi target Israel terlepas siapa pun pemiliknya," ujar pria berusia 64 tahun itu kepada Aljazirah, Selasa (13/11).

Setelah sirene peringatan putaran pertama berbunyi, dia dihubungi oleh orang-orang di daerah itu yang memberi tahu dia tentang adanya serangan. Tapi, dia menolak untuk bergegas melihat gedung miliknya.

"Saya muncul atau tidak tadi malam, hasilnya akan sama. Saya merasa mati rasa," ungkap Abu Saif. Dia berharap, di bangunan itu ia akan menghabiskan hari-hari terakhirnya sebagai seorang pensiunan."

Baca juga, Eropa dan PBB Desak Eskalasi Gaza Dihentikan.

Saif mengaku, dulu tinggal dan bekerja di Arab Saudi selama 40 tahun. Ia pun telah menghabiskan semua tabungannya dan berinvestasi untuk membangun tempat ini. Ia berharap, dapat memiliki penghasilan yang berkelanjutan untuk melalui masa pensiun.

Gedung milik Abu Saif yang kini runtuh itu berfungsi sebagai ruang kantor bagi beberapa organisasi nonpemerintah dan outlet media. Gedung tersebut juga memiliki dapur yang disewa oleh Nayef al-Madhoun, seorang pria berusia 65 tahun yang menjalankan bisnis katering.

"Beberapa orang menelepon saya (pada Senin (12/11) malam) dan mengatakan kepada saya bahwa gedung itu telah terkena tembakan jet tempur F-16," kata al-Madhoun.

"Saya berlari dari rumah saya yang tidak terlalu jauh dari sini dan menemukan bahwa bangunan itu telah dibom rata dengan tanah," tambah dia.

Menurut Al-Madhoun, tidak ada apa-apa di dalam gedung itu yang dapat menjadi ancaman bagi tentara Israel.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke reruntuhan ketika dia mulai memikirkan masa depan. "Ini adalah sumber pendapatan keluarga saya selama tiga tahun terakhir," ungkapnya.

"Sampai tadi malam, saya punya 15 karyawan yang bekerja dan ini juga sumber pendapatan bagi mereka. Kami semua kehilangan mata pencaharian," tambah dia.

Ketika serangan udara berlanjut pada Selasa (13/11), warga Gaza mengatakan, mereka menjadi target serangan yang dilakukan secara sembarangan. "Kami tidak tahu bangunan ini akan menjadi target," kata Ahmed Nasser, menunjuk sebuah gedung perumahan tujuh lantai.

Ia menjelaskan, ada beberapa warga yang harus segera dievakuasi. Seperti seorang ibu dengan bayi yang baru lahir dan seorang nenek di kursi roda. Mereka berteriak ketakutan ketika berlari keluar hanya dengan mengenakan pakaian yang melekat di badan mereka.

"Mereka semua mulai mengevakuasi gedung setelah mendengar sirene, tetapi di tengah-tengah evakuasi, jet Israel mulai menembak ke arah daerah itu," jelas Nasser.

Nasser tidak bisa menyelamatkan ijazah kuliah dan sertifikat mengajaranya. Bahkan, paspor dan dokumen resmi ayah dua anak itu sekarang telah hilang.

Seperti kebanyakan orang yang tinggal di Gaza yang telah menjadi rumah bagi lebih dari dua juta orang, Nasser menganggur karena kondisi ekonomi Gaza yang mengerikan.

Blokade telah menghancurkan ekonomi lokal dan sangat membatasi masuknya makanan serta akses layanan dasar. Blokade juga menghentikan pasokan bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun kembali banyak infrastruktur yang rusak.

Pada Selasa (13/11) sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, memperingatkan akan meningkatkan intensitas serangan dan tembakan roket ke Kota Ashdod dan Beersheba di Israel. Hal itu akan dilakukan jika Israel terus melakukan serangan udara terhadap gedung-gedung sipil di Gaza.

Pernyataan itu dirilis beberapa jam setelah roket dari Gaza menewaskan seorang pria Israel di kota pesisir Ashkelon. Sedikitnya, tujuh warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel sejak Senin (12/11) malam, dalam kekerasan terburuk antara kedua pihak sejak serangan Israel pada 2014 di Jalur Gaza.

Eskalasi terjadi setelah tujuh warga Palestina lainnya tewas pada Ahad (11/11) dalam operasi rahasia Israel yang ditanggapi Hamas dengan tembakan roket dari Gaza. Seorang tentara Israel juga tewas dalam serangan rahasia di dekat Khan Younis.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES