Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Monday, 11 Rabiul Awwal 1440 / 19 November 2018

Donald Trump Dinilai Bekerja Melawan Palestina

Kamis 08 Nov 2018 19:17 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Rambu jalan kedutaan besar AS di Yerusalem

Rambu jalan kedutaan besar AS di Yerusalem

Foto: Jerusalem Municipality via AP
Presiden AS, Donald Trump dituding menargetkan rakyat Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina Saeb Erekat menuding Amerika Serikat (AS) bekerja melawan negaranya. Hal itu disampaikan ketika berpidato di Universitas Yordania di Amman, Rabu (7/11).

“Presiden AS Donald Trump menargetkan rakyat Palestina, menuduh mereka membuat masalah karena kami menolak keputusannya mengenai Yerusalem,” kata Erekat dalam pidatonya, dikutip laman Anadolu Agency.

“Presiden AS mengatakan kepada kami bahwa dia tidak akan membuat keputusan apa pun tentang Yerusalem, tapi apa yang terjadi hanya menegaskan bahwa dia bekerja melawan kami,” ujar Erekat.

Ia mengatakan seluruh dunia telah menyebut Yerusalem sebagai “garis merah”. “Pada hal apa pemerintaha Trump mendasarkan keputusannya,” katanya.

Palestina telah menarik diri dari perundingan damai dengan Israel yang dimediasi AS. Hal itu dilakukan setelah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Desember 2017.

Kendati demikian, AS tetap berupaya menarik kembali Palestina ke meja perundingan. Terdapat beberapa cara yang ditempuh AS untuk mewujudkan ambisinya.

Pertama yakni dengan menghentikan kontribusinya untuk Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Keputusan itu tak pelak membuat UNRWA seketika mengalami krisis pendanaan. Sebab AS merupakan penyumbang dana terbesar untuk UNRWA, yakni mencapai rata-rata 300 juta dolar AS per tahun.

AS juga memutuskan mengalihkan dana pembangunan sebesar 200 juta dolar AS untuk Tepi Barat dan Jalur Gaza. Presiden AS Donald Trump memerintahkan langsung pengalihan dana tersebut

Selain itu, AS memutuskan menutup kantor perwakilan PLO di Washington. Langkah tersebut dikecam keras oleh Otoritas Palestina.

Palestina telah menanggap langkah-langkah yang diambil AS itu sebagai cara agar mereka menerima konsep kesepakatan damai yang dikenal dengan istilah "Deal of  the Century". Konsep kesepakatan itu telah ditolak karena disebut-sebut tak lagi menyertakan pembahasan perihal Yerusalem dan hak pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah yang kini diduduki Israel.

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES