Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Saturday, 12 Muharram 1440 / 22 September 2018

Abbas: Palestina Berkomitmen Perdamaian Adil dengan Israel

Jumat 14 September 2018 09:40 WIB

Red: Ani Nursalikah

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbicara dalam pertemuan Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina di Ramallah, Ahad (14/1).

Presiden Palestina Mahmoud Abbas berbicara dalam pertemuan Dewan Pusat Organisasi Pembebasan Palestina di Ramallah, Ahad (14/1).

Foto: AP Photo/Majdi Mohammed
Palestina layak memiliki negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Kamis (13/9) mengatakan rakyat Palestina masih berkomitmen mewujudkan perdamaian yang adil dengan Israel. Abbas mengeluarkan pernyataan tersebut selama pertemuan di markasnya di Ramallah, Tepi Barat Sungai Yordan, dengan pemimpin tiga agama utama: Islam, Kristen dan Yahudi di wilayah Palestina.

Ia menekankan pentingnya mencapai perdamaian dengan Israel dengan dasar resolusi internasional yang berkaitan dengan pembentukan Negara Palestina dengan perbatasan 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Abbas, yang dikutip oleh kantor berita resmi Palestina, WAFA, mengatakan rakyat Palestina layak memiliki negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Para pemimpin agama menegaskan kepada Abbas dukungan mereka bagi kebijakannya yang bertujuan mewujudkan harapan dan aspirasi rakyat Palestina, yaitu kemerdekaan dan kebebasan. Abbas dijadwalkan berpidato di Sidang Majelis Umum PBB pada 27 September.

Ahmad Majdalani, seorang pejabat senior di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), mengatakan pidato Abbas akan seperti kertas kerja untuk tahap mendatang. Ia mengatakan kepada Voice of Palestine Radio rakyat Palestina akan melanjutkan upaya yang akan ditingkatkan pada masa mendatang, sebagai reaksi atas tindakan yang kebijakan Amerika Serikat serta Israel, yang dilakukan untuk menghentikan masalah Palestina.

Pemerintah Otonomi Palestina telah memboikot pemerintah AS yang dipimpin Presiden Donald Trump sebagai penengah perdamaian, setelah Trump pada Desember lalu mengumumkan akan mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan pada Mei memindahkan kedutaan besar AS di Israel dari Tel Aviv ke kota suci yang menjadi sengketa tersebut.

Pembicaraan perdamaian Palestina-Israel telah macet sejak 2014, setelah sembilan bulan pembicaraan yang ditaja AS gagal membuat kemajuan guna menyelesaikan konflik selama beberapa dasawarsa.

Baca juga: Mahkamah Pidana Internasional Didesak Selidiki Israel

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES