Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Rabu, 4 Zulhijjah 1439 / 15 Agustus 2018

Akademisi Palestina Cerita Duka di Sana

Kamis 09 Agustus 2018 15:58 WIB

Rep: Sandy Ferdiana/ Red: Rahmat Santosa Basarah

Syekh Diaa M D Al-Juneidi asal Palestina bersama tim Aman Palestin berkunjung ke Republika Jawa Barat, Jalan Mangga, Kota Bandung, Rabu (8/8).

Syekh Diaa M D Al-Juneidi asal Palestina bersama tim Aman Palestin berkunjung ke Republika Jawa Barat, Jalan Mangga, Kota Bandung, Rabu (8/8).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Hampir setiap hari, pasti ada yang terbunuh. Tinggal giliran siapa selanjutnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Tahun depan, Syekh Diaa MD Aljuneidi (33 tahun) akan pulang ke kampung halamannya di Hebron, Palestina. InsyaAllah, kepulangannya ke Palestina, seiring dengan rencana tuntasnya meraih gelar doktor di Universitas Islam Internasional Malaysia.

‘’Insya Allah tahun depan pulang ke Palestina, dan siap dipenjara selama seminggu,’’ ujar Diaa saat berkunjung ke Kantor Republika Perwakilan Jawa Barat di Kota Bandung, belum lama ini. Diaa sengaja menyempatkan berkunjung ke Kantor Republika Jabar atas arahan non governmnet organization (NGO) Aman Palestin.

Kepada Republika, Diaa banyak bercerita soal kondisi negaranya yang masih dalam relung derita. Hampir semua kabar yang diterima Diaa dari saudaranya di Palestina, tidak ada yang mengenakan. Proses kurungan selama tujuh haripun harus dilaluinya ketika pulang ke Palestina tahun depan.

Menurut Diaa, sudah menjadi peraturan Zionis Israel, setiap warga Palestina yang hendak pulang ke kampung halamannya dari negara luar, harus terlebih dulu dikurung atau dipenjara selama tujuh hari. Setelah melalui itu, baru diperbolehkan bertemu keluarganya.

Pria beranak tiga ini meninggalkan Palestina sejak 2004, untuk berkuliah di Universitas Islam Internasional Malaysia. Meski tinggal di tanah melayu, Diaa tidak pernah luput mencari informasi tentang kondisi negaranya.

Kabar terbaru, sekitar 77 persen warga yang tinggal di Palestina merupakan orang Israel. Semua kota di Palestina telah dikuasai Israel, kecuali Gaza. Hidup di tengah cengkraman militer Israel seolah dekat dengan kematian.

‘’Hampir setiap hari, pasti ada yang terbunuh. Tinggal giliran siapa yang hendak meninggal selanjutnya,’’ tutur Diaa, mengutarakan derita saudaranya di Palestina. Terlebih penduduk Palestina yang tinggal di Gaza, oleh kekuasaan Israel sengaja dibiarkan meninggal secara alamiah.

Diaa menyebutkan, hanya dua persen saja keberadaan air di Gaza yang layak diminum. Selebihnya, papar dia, keberadaan air di sana tidak layak minum bahkan mengandung kimia. Yang lebih memprihatinkan, warga Palestina tidak bisa lagi melaut untuk mencari ikan.

Sebelumnya, angkatan laut Israel sempat mengizinkan warga Palestina mencari ikan di laut dengan batas tertentu. Jika melewati batas yang ditentukan, tanpa kompromi langsung ditembak. Saat ini, tentara Israel melarang aktivitas melaut bagi warga Palestina.

Jika boleh mengklaim, kata Diaa, warga Palestina merupakan umat paling sabar. Kesabaran itu merupakan karunia Allah SWT. Terlebih, Diaa meyakini bahwa kampung halamannya merupakan tanah yang diberkahi Allah SWT. ‘’18 dari 25 nabi melakukan syiar di Palestina,’’ kata Diaa. Bahkan, kota kelahiran Diaa merupakan lokasi berdakwahnya Nabi Ibrahim AS.

Sampai kapan penjajahan di Palestina akan berlangsung?. ‘’Bukan karena agama atau suku dari Israel, yang kami benci adalah praktik zionisnya,’’ tegas Diaa.

Sebab, selama ini perbuatan zionis Israel tidak memandang suku dan agama. Tidak hanya masjid, imbuh dia, tempat ibadah agama lainpun kerap dihancurkan oleh zionis Israel.

Di tengah kisah penderitaan saudaranya di Palestina, Diaa mengaku terharu dengan perhatian bangsa Indonesia yang banyak membantu Palestina. Umat, pemerintah dan NGO di Indonesia tidak pernah putus membantu Palestina, termasuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan bahwa ‘penjajahan di atas dunia harus dihapuskan’, merupakan spirit penghapusan praktik penjajahan di dunia, termasuk di Palestina. Terakhir, Diaa menyampaikan terima kasih kepada Indonesia, termasuk kepada Aman Palestin. ‘’Karena Palestina masih membutuhkan bantuan saudaranya di muka bumi ini,’’ tandasnya.  

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Obor Asian Games 2018 Tiba di Jakarta

Rabu , 15 Agustus 2018, 13:24 WIB