Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Thursday, 7 Syawwal 1439 / 21 June 2018

Palestina tak Gentar dengan Ancaman Donald Trump

Rabu 03 January 2018 17:14 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Teguh Firmansyah

Donald Trump

Donald Trump

Foto: REUTERS/Jonathan Ernst

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Palestina mengecam ancaman Amerika Serikat yang akan memangkas bantuan ke negara tersebut. Mereka menilai kebijakan itu seperti dipakai untuk memeras warga Palestina.

"Yerusalem tidak untuk ditukarkan baik oleh emas ataupun perak," kata Juru Bicara Presiden Palestina Nabil Abu Rdainah sepeti dikutip Reuters, Rabu (3/1).

Ancaman diberikan menyusul penolakan Palestina untuk melanjutkan perbincangan damai dengan Israel. Nabil Abu Rdainah mengatakan, Palestina bukan menolak untuk meneruskan negosiasi.

Hanya saja, dia melanjutkan, diskusi tersebut akan dilakukan jika pembentukan Palestina berdasarkan batas negara yang ada sebelum Israel mencaplok Tepi Barat, Yerusalem Timur dan Jalur Gaza dalam perang 1967.

Sayangnya, Israel bersumpah untuk mempertahankan seluruh Yerusalem sepenuhnya. "Jika Amerika Serikat menginginkan perdamaian dan kepentingannya, hal itu harus mematuhi hal itu," katanya.

Sementara melihat laporan kongres AS pada 2016 kemarin, bantuan dana reguler yang diberikan Paman Sam ke Jalur Gaza dan Tepi Barat sebesar 400 juta dolar sejak kebijakan fiskal 2008 lalu. Sebagian besar dana disalurkan melalui Badan Tenaga Kerja AS dan sisanya melalui Otoritas Palestina berdasarkan perjanjian damai sementara.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memangkas bantuan ke Palestina. Hal itu dikatakannya lewat cicitan di Twitter. Tak hanya Palestina, Trump juga mengancam bantuan Pakistan.

"Sebagai contoh, kami membayar rakyat Palestina ratusan juta dolar setahun dan tidak mendapatkan penghargaan atau kepedulian. Mereka tidak ingin melakukan negosiasi yang sudah lama tertunda.... Perpanjian damai dengan Israel," kicaunya.

Menteri Kebudayan Israel Miri Regev menyambut baik rencana tersebut. Regev, yang berasal dari partai yang sama dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu mengaku puas dengan keputusan Trump yang akan berhenti 'melontarkan pujian' kepada Palestina.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA