Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Wednesday, 22 Zulhijjah 1441 / 12 August 2020

Zionis Galau: Pilih Argentina atau Palestina (1)

Senin 30 Apr 2012 21:52 WIB

Red: Yeyen Rostiyani

Palestina di bawah Mandat Inggris 1920-1948 (peta)

Palestina di bawah Mandat Inggris 1920-1948 (peta)

Foto: news.bbc.co.uk

Pada 64 tahun silam, tepatnya 14 Mei 1948, Israel resmi berdiri di tanah Palestina. Bagi mereka, inilah kemenangan. Bagi Palestina ini adalah bencana besar atau an-Nakba- yang mengiris hati. Sedang umat Islam harus menyaksikan kaum Zionis menggerogoti selangkah demi selangkah tanah suci tempat Rasullullah saw ber-miraj ke langit.  

Dalam jurnal akademis yang beredar di Amerika Serikat dan Inggris, Historian, Ritchie Ovendale (2002) pernah memaparkan asal-muasal konflik antara Arab dan Israel. Mantan Profesor Politik Internasional di University of Wales, Aberystwyth, di Inggris ini menyebutkan sikap anti-Semit –menurutnya, istilah ini muncul 1860-- di kawasan Eropa menjadi cikal-bakal pergerakan kaum Yahudi. Di Rusia, sikap anti-Semit ini disebut pogroms

Periode Dreyfus menandai imigrasi kaum Yahudi Eropa yang kemudian menetap di Kanada, Inggris, Australia, dan Afrika Selatan. Sebagian lagi berimigrasi ke wilayah Kekhalifahan Utsmaniyyah, yang disebut Palestina. Namun jumlah terbesar mendarat di Amerika Serikat (AS). Hingga kini, AS dikenal memiliki komunitas Yahudi terbesar di luar Israel. Itu sebabnya, merangkul Yahudi adalah tugas penting bagi siapa saja yang ingin meraih kekuasaan di AS. 

 

Argentina atau Palestina?

Ide mengenai “tanah air” (homeland –red) bagi kaum Yahudi menggelinding pertama kali dari tangan Leon Pinsker pada 1882, lewat buku Auto-Emancipation. Menurutnya, kaum Yahudi harus memiliki “tanah air” sendiri. 

Kata Zionis pertama kali mungkin digunakan Nathan Birnbaum dalam artikel pada 1886. Maknanya, kurang lebih dipahami mereka sebagai “pendirian kembali” tanah air Yahudi di Palestina atau yang digagas Birnbaum sebagai Eretz-Israel

Secara politis, Zionisme diadopsi Theodore Herzl. Tulisannya, Der Judenstaat (Negeri Kaum Yahudi -Red) terbit pertama kali di Wina, Austria, pada 1896. Ia semakin mengristalkan ide pendirian tanah air bagi kaum Yahudi. Hingga saat itu, istilah tanah air masih digunakan, dan belum menyebut istilah “negara”. Di manakah lokasi tanah air itu? Herzl memiliki dua pilihan tempat: Argentina atau Palestina.

Mengapa Argentina? Alasannya cukup sederhana, karena menurut Herzl, ''kondisi alamnya sebagai salah satu negara terkaya di dunia, wilayahnya yang luas, populasi yang sedikit dan cuaca yang sedang.'' 

Namun pilihan akhirnya jatuh kepada Palestina. Pilihan ini bersandar pada Kitab Perjanjian Lama. Di dalamnya, wilayah Palestina –yang jatuh ke tangan Romawi kemudian berakhir di kekhalifahan Utsmaniyyah-- disebut sebagai the Promised Land atau tanah yang dijanjikan. 

Sekadar gambaran, tidak semua kelompok Yahudi menyakini Israel sebagai manifestasi dari the Promised Land. Kelompok Yahudi Ortodoks di AS misalnya, mereka justru menentang Israel. Mereka percaya, the Promised Land tidak diraih dengan cara perebutan dan penjajahan seperti yang dilakukan kaum Zionis. Jadi? Nantikan tulisan berikutnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA