Monday, 5 Zulhijjah 1443 / 04 July 2022

'Hukum' Palestina, Kongres AS Potong Dana Bantuan 200 Juta Dolar

Sabtu 01 Oct 2011 18:03 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Warga Palestina di Tepi Barat tengah menyaksikan Presiden Mahmoud Abbas menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-66 di New York, melalui layar lebar, Jumat (23/9).

Warga Palestina di Tepi Barat tengah menyaksikan Presiden Mahmoud Abbas menyampaikan pidato di Sidang Majelis Umum PBB ke-66 di New York, melalui layar lebar, Jumat (23/9).

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Amerika Serikat serius dengan ancamannya terhadap langkah Palestina. Kongres AS membuat Palestina membayar upaya mencari pengakuan di PBB dengan memutuskan menghadang bantuan hampir 200 juta dolar untuk otoritas tersebut. Keputusan mengancam mematikan sejumlah proyek seperti bantuan pangan, kesehatan dan dukungan upaya membangun fungsi-fungsi negara.

Keputusan menahan dana bantuan adalah bagian dari keinginan pemerintah Obama dan refleksi kemarahan Kongres terhadap Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, yang mengejar rekonsiliasi Fatah-Hamas dan pengakuan kedaulatan di PBB.

Pembekuan dana itu, yang seharusnya telah dialokasikan pada tahun fiskal AS yang berakhir hari ini, adalah isyarat paling nyata keseriusan pemimpin Kongres terhadap langkah Palestina. Ancaman itu bahkan berpotensi pada penghentian pendanaan pada tahun depan jika Abbas tetap maju dengan aksinya di PBB.

Banyak tuntuan keras di Kongres untuk menahan total 600 juta dolar, jumlah rata-rata yang diberikan dalam bantuan bilateral Kongres kepada Tepi Barat dan Gaza setiap tahunnya sejak 2008, pada tahun keuangan berikut sebagai respon langkah Palestina.

Pemerintah, begitu pula Kongres tetap menentang pengajuan aplikasi Palestina untuk keanggotaan UN, yang telah dimasukkan Abbas pekan lalu. Namun Gedung Putih berargumen bahwa bantuan untuk rakyat Palestina upaya yang digambarkan pejabat AS sebagai 'bagian penting komitmen AS terhadap kepastian masa depan dan solusi dua negara untuk Palestina'.

Beberapa tokoh mengecam sikap Kongres. Bill Clinton adalah salah satunya yang pada bulan ini mengingatkan para legislatof untuk membiarkan pemerintah menangani isu itu. "Setiap orang tahu Kongres AS adalah badan parlemen yang paling pro-Israel di dunia. Mereka tak perlu menunjukkan itu."

 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA