Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Turki Ingin Produksi Tank tak Berawak

Kamis 22 Februari 2018 15:55 WIB

Rep: Fira Nursya'bani/ Red: Ani Nursalikah

Recep Tayyip Erdogan

Recep Tayyip Erdogan

Foto: Anadolu Agency
Hampir semua kendaraan lapis baja yang beroperasi di Afrin produksi di dalam negeri.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya telah merencanakan memproduksi tank tak berawak untuk angkatan bersenjata.

"Kami akan selangkah lebih maju. Setelah memiliki kendaraan udara tak berawak produksi dalam negeri, kami juga harus mencapai kemampuan memproduksi tank tak berawak. Kami akan melakukannya," kata Erdogan dalam sebuah pertemuan yang diadakan di kompleks kepresidenan di Ankara, Rabu (21/2).

Lima tentara Turki belum lama ini tewas terbunuh di dalam tank dekat daerah Sheikh Haruz di Distrik Afrin, Suriah. Wilayah tersebut adalah tempat Turki melakukan operasi militer untuk melawan pasukan Kurdi Peoples Protection Units (YPG) sejak 20 Januari lalu.

"Hampir semua kendaraan lapis baja yang beroperasi di Afrin diproduksi di dalam negeri. Saya berterima kasih kepada teman-teman yang memproduksinya," ujar Erdogan, dikutip Hurriyet Daily.

Erdogan berulang kali mengkritik beberapa negara asing karena diduga enggan menjual kendaraan udara tak berawak, bersenjata atau tidak bersenjata. Ia menekankan sistem tak berawak dapat mengurangi jumlah korban jiwa.

Setelah pertemuan komite eksekutif Undersecretariat for Defence Industries (SSM) pada 31 Januari lalu, sebuah pernyataan dari kantor kepresidenan Turki mengatakan proyek 55 tank tak berawak sedang dievaluasi. Proyek ini diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar 9,4 miliar dolar AS.

Pejabat Turki juga memutuskan menambah sistem militer nasional untuk membantu militer Turki dalam operasi Olive Branch yang dilakukan di Afrin, Suriah. Presiden Erdogan memimpin rapat komite eksekutif SSM untuk pertama kalinya setelah undang-undang darurat mengumumkan SSM akan berada di bawah kendali penuh presiden, bukan Kementerian Pertahanan. Sebelum keputusan tersebut, komite eksekutif SSM diketuai oleh perdana menteri.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA